Rabu, 07 November 2018

Secangkir Teh China




Secangkir Teh China
     Oleh. Abu Raihan




Waktu menunjukkan pukul 08.00 waktu Beijing, ketika pesawat Airbus 330 CHINA AIR,dengan nomor penerbangan CA 978 yang membawa kami dan rombongan dari Jakarta mendarat di Běijīng Shǒudū Guójì Jīchǎng, Bandar udara internasional di Beijing, Republik Rakyat Tiongkok. Bandara ini berlokasi di Distrik Chaoyang, 32 km (20 mi) timur laut dari pusat kota Beijing. Bandara ini dimiliki dan dioperasikan oleh Beijing Capital International Airport Company Limited, sebuah perusahaan yang dikontrol oleh pemerintah. Bandara Ibu Kota yang menjadi pusat  operasi  Air China, maskapai penerbangan nasional di Republik Rakyat Tiongkok, yang terbang ke sekitar 120 tujuan (tidak termasuk kargo) dari Beijing. Hainan Airlines dan China Southern Airlines juga menggunakan bandara ini sebagai jalur perhubungan mereka. Bandar Udara Internasional Ibu kota Beijing merupakan bandara tersibuk kedua di dunia berdasarkan trafik penumpang.




 

 
Běijīng Shǒudū Guójì Jīchǎng, Bandar udara internasional di Beijing

Hari itu sabtu, 14 april 2018, hawa dingin menerpa begitu kami menuruni tangga pesawat, setelah terbang selama kurang lebih 7(tujuh) jam diketinggiaan 40.000 kaki(feet) rasanya tubuh ini perlu segera beradaptasi dengan kondisi dan cuaca setempat, saat itu di Beijing masih musim semi. Musim semi yang berlangsung dari bulan Maret hingga awal Juni dianggap sebagai musim terbaik untuk mengunjungi China, Udara saat musim semi terasa sejuk, Bunga mawar tiongkok (rosa chinensis) dan seruni (chrysanthemum morifolium) dengan beraneka warna merah, kuning dan putih pun mulai bermekaran di sepanjang jalan. Udara yang masih cukup dingin kala itu, tidak terlalu menjadi hambatan bagi kami, Di pagi hari dan menjelang petang suhu udara berkisar antara 7-9 derajat celcius, namun di siang hari bisa mencapai 26 derajat celcius. Belakangan kami ketahui, seminggu sebelum tanggal kedatangan kami, salju masih sempat turun dan sungai utama yang mengalir melalui kota ini, yaitu Sungai Yongding dan Sungai Chaoba airnya membeku.
Kami disambut  Ms. Hani, seorang local guide yang cukup lancar berbahasa Indonesia yang selanjutnya mengajak kami untuk naik ke dalam Bus yang sudah disiapkan untuk menemani rombongan kami sebanyak 16 orang bejalan-jalan keliling Beijing. Beijing (Tionghoa: 北京; Pinyin: Běijīng; Wade-Giles: Pei-ching ) adalah ibu kota Republik Rakyat Tiongkok dan salah satu kota terpadat di dunia, dengan populasi kurang lebih 25.000.000 pada tahun 2018, Beijing merupakan kota terbesar kedua di Tiongkok setelah Shanghai dari segi populasi perkotaan dan merupakan pusat politik, budaya, dan pendidikan. Beijing adalah kota markas dari sebagian besar perusahaan BUMN terbesar Tiongkok dan pusat utama jalan raya nasional,jalan tol, jalur kereta api, dan jaringan rel kereta cepat.
Beijing menjadi tuan rumah Olimpiade 2008 dan terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022, yang akan membuatnya menjadi kota pertama yang pernah menjadi tuan rumah kedua iven tersebut.

Tiananmen Square
Pada hari pertama kami di Beijing ini ada beberapa destinasi wisata yang akan kami kunjungi. Yang pertama kami datangi adalah Tiananmen Square, adalah alun-alun yang terletak di tengah kota Beijing, persis berhadapan dengan Forbidden City. Nama Tiananmen sendiri diambil dari nama gerbang masuk yang ada di Forbidden City (Kota Terlarang) yang memiliki arti The Gate of Heavenly Peace (gerbang kedamaian surgawi). Gerbang tersebut terletak di sebelah utara Lapangan Tiananmen , pertama kali dibuat pada masa Dinasti Ming, Tiananmen telah menjadi salah satu simbol terpenting Tiongkok sampai sekarang. Tembok gerbang tersebut memiliki panjang 66 meter, lebar 37 meter, dan tinggi 32 meter. Di atasnya ada atap dengan desain tradisional Tiongkok. Di depan gerbang tersebut ada empat patung singa - dua patung persis di depan gerbang dan dua lainnya di jembatan sebelum gerbang - yang dalam budaya Tionghoa diyakini dapat menangkal roh jahat.
Dua plakat raksasa digantung di masing-masing sisi gerbang: plakat kiri tertulis "Panjang Umur Republik Rakyat Tiongkok" (Tionghoa: ; Pinyin: Zhōnghuá rénmín gòngguó wànsuì), sementara plakat kanan tertulis "Panjang Umur Persatuan Rakyat Dunia" (Hanzi: ; Pinyin: Shìjiè rénmín tuánjié wànsuì). Pada tahun 1964, karakter Hanzi tradisional yang digunakan di plakat diganti menjadi karakter Hanzi sederhana. Di antara kedua plakat, tergantung foto pendiri RRT Mao Zedong yang selalu diganti setiap tahunnya. Selain foto Mao Zedong, tokoh lain juga pernah digantungkan fotonya di Tiananmen, seperti Sun Yat-sen dan Chiang Kai-shek pada era Republik Tiongkok, Zhu De yang fotonya pernah disandingkan dengan foto Mao untuk beberapa waktu, dan Joseph Stalin saat kematiannya pada tahun 1953.
Luas Tiananmen Square yang mencapai 440.000 meter persegi menjadikannya sebagai alun-alun terbesar di dunia. Lapangan ini terletak pada koordinat 116°23′17″BT dan 39°54′27″LU. Dengan panjang 800 meter dari utara ke selatan serta lebar 500 meter dari barat ke timur, lapangan ini terletak di luar pintu selatan Istana Kuno Dinasti Ming dan Qing. Di sebelah selatan lapangan ini, ada dibangun sebuah bangunan yang merupakan Mausoleum Ketua Mao. Di dalam bangunan ini, jenazah Ketua Mao Zedong yang diawetkan di dalam kotak kaca ditempatkan. Di sebelah utara lapangan ini ada tiang bendera di mana setiap harinya diadakan upacara penaikan dan penurunan bendera oleh tentara kehormatan. Di lapangan ini tidak boleh ada papan dan poster reklame, bahkan bus dan kendaraan yang melintasi jalan di depan lapangan juga tidak diperbolehkan memiliki reklame di badan bus maupun kendaraan. Peristiwa penting bersejarah yang terjadi di lapangan ini adalah Demonstrasi Tiananmen 1989 yang kemudian berakhir dengan peristiwa berdarah Insiden Tiananmen 1989.
 
Sudut-sudut Tiananmen Square
 
Sudut-sudut Tiananmen Square

Forbidden City
Dari Tiananmen Square Perjalanan dilanjutkan ke Forbidden City, Kota Terlarang (bahasa Inggris: The Forbidden City; bahasa Mandarin: 紫禁城; pinyin: Zǐjìn Chéng) yang dapat diterjemahkan dengan "Kota Terlarang Ungu", sering disebut juga dengan "Istana Terlarang” ialah bekas istana kekaisaran China dan dijadikan tempat tinggal keluarga kaisar selama 500 tahun, terletak persis di tengah-tengah kota kuno Beijing,  dari jaman Dinasti Ming hingga dinasti Qing. Di jaman dahulu tidak ada orang yang boleh keluar masuk komplek istana kecuali atas izin kaisar, sebab itulah disebut sebagai “Kota Terlarang”. Dikenal sebagai "Museum Istana" (bahasa Mandarin:宫博物院; pinyin:Gùgōng Bówùyùan), lokasi ini memiliki luas sekitar 720,000 meter persegi, 800 bangunan dan lebih dari 8.000 ruangan. Kota Terlarang, oleh UNESCO disebut merupakan koleksi terbesar struktur kayu kuno di dunia, dan terdaftar sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1987 sebagai "Istana Kerajaan Dinasti Ming dan Qing". Lokasi istana kerajaan berada di utara dari lapangan Tiananmen dan dapat diakses dari lapangan tersebut melalui Gerbang Tiananmen. Lokasi tersebut dikelilingi oleh suatu wilayah luas yang disebut Kota Kerajaan.
 
Sudut-sudut Forbidden City

 
Sudut-sudut Forbidden City

Temple of Heaven
Tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah Temple of Heaven, Tian Tan () atau dalam Bahasa Indonesia Kuil Surga adalah tempat pemujaan agama Khonghucu & Tao yang terletak di Beijing , Dibagun pada abad 15 M ,tepatnya dimulai tahun 1420 M (Dinasti Ming) dan dibuat di atas lahan seluas 2.700 KM². Arsitekturnya menyimbolkan hubungan bumi dan langit (manusia dan Tuhannya). Ini berkaitan dengan kaisar sebagai anak langit dalam kepercayaan Mitologi Cina. Dibangun sebagai persembahan untuk langit. Ini adalah alasan mengapa Kota Terlarang berukuran lebih kecil, karena kaisar tidak berani membuat tempat tinggal yang lebih besar daripada kuil langit (Tuhan). Tian Tan dikelilingi tembok yang panjang. Di bagian utara dibuat agak bulat menyimbolkan langit dan selatan persegi menyimbolkan bumi. Hal ini selaras dengan pemikiran Tiongkok kuno yang berbunyi Surga itu bulat dan bumi itu persegi.  Bagian utara juga dibuat lebih tinggi dari bagian selatannya.
Hasil gambar untuk temple of heaven Hasil gambar untuk temple of heaven
Sudut-sudut Temple of Heaven
Hasil gambar untuk temple of heaven Hasil gambar untuk temple of heaven
Sudut-sudut Temple of Heaven

Masjid Niujie
Waktu menunjukan pukul 17.00 waktu bagian Beijing ketika kami beserta rombongan keluar dari kuil Surga, selanjutnya kami menuju Masjid Niujie untuk melaksanakan sholat jama takhir, dhuhur dan ashar. Di Beijing ini sebagian besar penduduknya tidak beragama, penduduk yang beragama islam hanya sebagian kecil saja populasinya kurang lebih 200.000 jiwa, kalau dibandingkan dengan penduduk Beijing yang berjumlah kurang lebih 25.000.000 jiwa jelas sangat-sangat sedikit. Fasilitas ibadah seperti masjid pun jarang dijumpai, hanya ada kurang lebih 68 masjid diseluruh kota Beijing yang memiliki luas wilayah kurang lebih 1.368,32 km2.
Masjid Niujie adalah masjid paling tua dan bersejarah di Beijing, ibukota negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Usia masjid ini diperkirakan lebih dari seribu tahun. Memiliki area kompleks seluas kurang lebih 6.000 meter persegi, bangunan Masjid Niujie merupakan masjid terbesar di antara 68 buah masjid yang ada di Beijing. Masjid Niujie ini juga ditandai sebagai  menjadi titik awal masuknya Islam di daratan Cina. Arsitekturnya memperlihatkan campuran arsitektur khas Cina dan Islam. Dari luar, arsitektur bangunan menunjukkan pengaruh Cina tradisional, yakni tipikal bangunan istana Cina. Sedangkan di dalam memperlihatkan gaya arsitektur Islam.
Perpaduan dua gaya arsiktektur ini tidak terlepas dari kebijakan yang diterapkan oleh pemerintahan Dinasti Liao. Kekaisaran Liao menerapkan aturan yang melarang komunitas Muslim setempat mendirikan bangunan dengan gaya arsitektur selain arsitektur tradisional Cina, dengan pengecualian bahwa penggunaan kaligrafi Arab tetap diizinkan pada masa itu.
Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Tonghe dari Dinasti Liao, tahun 996 Masehi, oleh dua orang berkebangsaan Arab. Menilik dari sejarah berdirinya, masjid ini sudah melintasi enam zaman, dari masa kekuasaan Dinasti Liao, Dinasti Song, Dinasti Yuan, Dinasti Ming, Dinasti Qing hingga era Cina modern saat ini. Sejak awal berdiri hingga kini, Masjid Niujie telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan. Di masa pemerintahan Dinasti Ming, bangunan masjid mengalami perbaikan pada tahun 1442. Kemudian diperluas pada tahun 1696, semasa Dinasti Qing berkuasa. Setelah RRT berdiri tahun 1949,  Masjid Niujie telah mengalami tiga kali renovasi, masing-masing di tahun 1955, 1979 dan 1996.
Sebagai masjid tertua dan paling besar di Beijing, tak mengherankan jika masjid ini menjadi pusat komunitas Muslim di kota tersebut yang jumlahnya mencapai 200 ribu jiwa. Masjid ini terletak di kawasan Niujie, Distrik Xuanwu, Beijing. Niujie sendiri dikenal sebagai kawasan padat berpopulasi Muslim terbesar di Beijing. Data terakhir menyebutkan terdapat sekitar 13 ribu warga Muslim yang bermukim di kawasan ini.
Gerbang masuk menuju ke dalam kompleks Masjid Niujie berhadapan dengan tembok besar sepanjang kurang lebih 40 meter yang dihiasi marmer berwarna putih. Interior bangunan didekorasi dengan arsitektur khas Cina dan sentuhan desain Arab yang tidak menampilkan figur manusia dan hewan. Menara pengamat bulan yang terletak di dalam komplek berarsitektur heksagonal dan bertingkat dua. Menara ini tingginya 10 meter, digunakan untuk mengetahui posisi bulan guna menentukan kalender Islam, contohnya waktu berpuasa.  Di sebelah menara terdapat ruangan ibadah, aula utama daripada masjid yang memiliki luas 600 m². Ruangan ini hanya terbuka bagi Muslim dan berkapasitas untuk 1000 , Ruangan ibadah menghadap kiblat dan halamannya berada di sebelah timur.
Pada tahun 1215 Masjid Niujie ini dihancurkan oleh tentara Mongol, kemudian dibangun kembali pada 1443 periode Dinasti Ming dan secara signifikan diperluas pada 1696 pada zaman Dinasti Qing. Sejak zaman Dinasti Qing, pasar di sekitarnya terkenal untuk perdagangan daging sapi dan daging kambing hingga saat ini. Nama masjid yang sebenarnya adalah Lǐbàisì, yang diberikan oleh Kaisar Chenghua pada tahun 1474, karena terletak di Jalan Sapi (Niu berarti sapi dan Jie berarti jalan), masjid ini disebut Masjid Niujie. Sampai sekarang di sekitar wilayah ini banyak warga yang menjual masakan halal, terutama yang menggunakan bahan baku daging sapi, Karenanya tak mengherankan jika kawasan ini dipenuhi oleh restoran-restoran Muslim.
Arsitektur khas Dinasti Qing jelas terlihat pada desain ruangan ibadah, yang berupa aula utama yang hanya terbuka bagi pengunjung Muslim. Langit-langit di depan aula utama didekorasi dengan panel persegi, yang pada tiap sudutnya dilukis dengan desain lingkaran berwarna merah, kuning, hijau dan biru. Pola dekorasi ini serupa dengan pola yang digambar di aula utama di Istana Terlarang. Kaligrafi ayat-ayat Alquran dalam aksara Arab dan Cina, lukisan bunga, serta hiasan kaca berwarna menghiasi ruangan ibadah.
Ruangan ini hanya dapat menampung seribu orang jamaah dan terdiri dari tiga buah koridor yang lapang. Di bagian dalam ruangan ibadah ini terdapat 21 buah tiang yang menyangga bagian dalam bangunan. Ruangan ibadah ini dinamakan juga dengan nama Aula Tungku. Di bagian belakang ruangan terdapat paviliun berbentuk heksagonal (segi enam) yang membuat aula ini tampak seperti tungku.
Di luar bangunan utama, terdapat dua buah paviliun yang pada salah satunya terdapat prasasti batu yang menuliskan tentang sejarah masjid. Prasasti batu tersebut merekam pernyataan Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing setelah dilaksanakannya renovasi besar tahun 1696. Prasasti tersebut menuliskan tentang tanggal pembangunan masjid serta tanggal renovasi dan penambahan bangunan di setiap periode sejak Dinasti Liao (907-1125). Restorasi masjid pada masa pemerintahan Kangxi akhirnya menjadikan bentuknya yang dipengaruhi arsitektur Qing yang juga terlihat pada bangunan-bangunan utama yang didesain pada masa itu.
Menara adzan (minaret) memiliki 2 tingkat dan terletak di tengah-tengah halaman. Pada awalnya menara ini dibangun untuk menyimpan teks tulisan. Pada masa berikutnya mulai digunakan sebagai menara adzan. Saat waktu salat tiba, muazzin akan naik ke menara dan melakukan azan untuk memanggil orang-orang untuk beribadah. Selain itu, komplek masjid juga memiliki perpustakaan yang menyimpan teks Al Quran dan pernah dijadikan sebagai tempat percetakan.  Di sebelah selatan halaman masjid terdapat tempat mengambil air wudhu untuk pria dan wanita.
Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti agama yang murni. Diperkirakan ajaran Islam mulai masuk dan berkembang di dataran Cina pada abad ke-5 Masehi. Adalah Khalifah Utsman bin Affan yang pada waktu itu menugaskan Sa'ad bin Abi Waqqas untuk membawa misi dagang ke daratan Cina. Bahkan kemudian Sa'ad menetap di Cina hingga beliau meninggal pada tahun 635 M, dan dimakamkan di sana.
Di bagian selatan komplek terdapat tanaman pohon cemara dan 2 buah makam bertuliskan aksara Arab milik 2 orang imam asal Persia yang berdakwah di sini, yakni makam Ahmad Burdani (dengan angka tahun 1320) dan Ali (tahun 1283). Tulisan di makam tersebut sangat penting dalam memaparkan tentang sejarah Islam di Tiongkok.
   
Eksterior dan Interior Masjid Niujie

Islam di Tiongkok
Perkembanngan Islam di Tiongkok dimulai ketika tiga Ṣaḥābā (sahabat nabi)—Sa'ad bin Abī Waqqās (594–674), Ja'far bin Abi Thalib, dan Jahsh berkhotbah pada tahun 616/617 di Tiongkok setelah sebelumnya datang dari rute Chittagong-Kamrup-Manipur, setelah berlayar dari Abyssinia pada tahun 615/616. Sa'ad bin Abi Waqqas, paman nabi sendiri dari pihak ibu kembali menuju ke Tiongkok untuk ketiga kalinya pada tahun 650-651 setelah Khalifah Utsman bin Affan, Khalifah ketiga, pada tahun 651, kurang dari dua puluh tahun setelah kematian Nabi Muhammad SAW, memintanya untuk memimpin sebuah delegasi ke Tiongkok, yang diterima dengan hangat oleh Kaisar Tiongkok. Kaisar Gaozong, salah satu Kaisar dari Dinasti Tang yang menerima utusan tersebut kemudian memerintahkan pembangunan masjid peringatan di Kanton, masjid pertama di negara tersebut, untuk mengenang Nabi Muhammad SAW.
Sementara sejarawan modern cenderung berpendapat bahwa tidak ada bukti bahwa Waqqās sendiri pernah datang ke Tiongkok, mereka meyakini bahwa para diplomat dan saudagar Muslim tiba di Tang Tiongkok beberapa dekade dari permulaan Abad Pertengahan (Hijrah). Budaya kosmopolitan Dinasti Tang, bersama kontak intensifnya dengan Asia Tengah dan komunitas penting para pedagang Asia Tengah dan Asia Barat (awalnya non-Muslim) yang tinggal di kota-kota di Tiongkok, yang membantu memperkenalkan Islam.
Sejarah mencatat, Islam masuk ke Cina pada masa Dinasti Tang (618-905 M), yang dibawa oleh salah seorang panglima Muslim, Saad bin Abi Waqqash RA, di masa Khalifah Utsman bin Affan RA. Menurut Chen Yuen, dalam karyanya, A Brief Study of the Introduction of Islam to China, masuknya Islam ke Cina sekitar tahun 30 H atau sekitar 651 M. Ketika itu, Cina diperintah oleh Kaisar Yong Hui (ada pula yang menyebut nama Yung Wei). Data masuknya Islam ke Cina ini dipertegas lagi oleh Ibrahim Tien Ying Ma dalam bukunya, Muslims in China (Perkembangan Islam di Tiongkok). Buku ini secara lengkap mengupas sejarah perkembangan Islam di Cina sejak awal masuk hingga tahun 1980-an.
Sebelumnya, banyak hikayat yang berkembang mengenai masuknya Islam ke Negeri Tirai Bambu ini. Namun, semua hikayat itu menceritakan adanya tokoh utama di balik penyebaran agama Islam di Cina.
Versi pertama menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina dibawa sahabat Rasulullah SAW yang hijrah ke al-Habasha Abyssinia (Ethiopia). Para sahabat Nabi hijrah ke Ethiopia untuk menghindari kemarahan dan amuk massa kaum Quraisy jahiliyah. Mereka antara lain Ruqayyah, anak perempuan Nabi; Utsman bin Affan, suami Ruqayyah; Sa'ad bin Abi Waqqash dan sejumlah sahabat lainnya.
Para sahabat yang hijrah ke Ethiopia itu mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di Kota Axum. Banyak sahabat yang memilih menetap dan tak kembali ke tanah Arab. Konon, mereka inilah yang kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581-618 M).
Sumber lain menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina ketika Saad bin Abi Waqqash dan tiga sahabatnya berlayar ke Cina dari Ethiopia pada 616 M. Setelah sampai di Cina, Saad kembali ke Arab dan 21 tahun kemudian kembali lagi ke Guangzhou membawa Kitab Suci Alquran.
Ada pula yang menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina pada 615 M--kurang lebih 20 tahun setelah Rasulullah SAW tutup usia. Adalah Khalifah Utsman bin Affan yang menugaskan Saad bin Abi Waqqash untuk membawa ajaran Islam ke daratan Cina. Konon, Menurut Ibrahim Tien Ying Ma dalam bukunya,”Muslims in China”, Saad meninggal dunia di Cina pada 635 M. Kuburannya dikenal sebagai Geys' Mazars.

Masjid Pertama di Tiongkok
Utusan Khalifah Utsman itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yong Hui dari Dinasti Tang. Kaisar Yong Hui menghargai ajaran Islam dan menganggap ajaran Islam punya kesamaan dengan ajaran Konfusionisme. Untuk menunjukkan kekagumannya terhadap Islam, kaisar mengizinkan berdirinya masjid pertama di Chang-an (Kanton). Masjid itu bernama Masjid Huaisheng atau Masjid Mercusuar atau  Masjid Memorial. Menurut versi Ibrahim Tien Ying Ma, masjid itu diberi nama Kwang Tah Se, yang berarti menara Cemerlang, dan dibangun oleh Yusuf. Sedangkan, masjid lainnya yang dibangun di sini adalah Chee Lin Se, yang berarti masjid dengan tanduk satu. Kedua masjid itu masih tetap berdiri hingga saat ini setelah 14 abad.
Masjid Huaisheng, adalah sebuah masjid utama di Guangzhou, Berkali-kali dibangun dalam sejarahnya, masjid tersebut menurut tradisi awalnya dibangun pada 1,300 tahun yang lalu, yang membuat masjid tersebut menjadi salah satu masjid tertua di dunia. Masjid tersebut dibangun untuk mengenang nabi Islam Muhammad. Manuskrip-manuskrip Muslim Tionghoa pertama menyatakan bahwa masjid tersebut dibangun pada 627 Masehi oleh Sa`d ibn Abi Waqqas yang merupakan paman Muhammad, dan datang pada misi Muslim pertamanya ke China pada tahun 620an.
Meskipun sarjana-sarjana sekuler modern tidak menemukan catatan sejarah apapun yang mengatakan bahwa Sa`d ibn Abi Waqqas benar-benar pernah ke China, mereka bersepakat bahwa kaum Muslim pertama kali datang ke China pada abad ke-7, dan pada pusat-pusat perdagangan utama, seperti Guangzhou, Quanzhou, dan Yangzhou mungkin terdapat masjid-masjid pertama mereka yang dibangun pada masa Dinasti Tang, meskipun tidak ada catatan yang menyebutkan keberadaan yang sebenarnya dari masjid-masjid tersebut yang ditemukan sejauh ini.
Masjid tersebut dikatakan telah ada pada masa Dinasti Tang, atau pada tahun-tahun awal Dinasti Song. Masjid tersebut dibangun kembali pada 1350 dan kemudian kembali dibangun pada 1695 setelah hancur dalam sebuah kebakaran. Mercusuar atau Minaret Huaisheng telah dibangun pada masa sebelumnya.
 Hasil gambar untuk masjid memorial tiongkok  Gambar terkait
Sudut-sudut Masjid Huaisheng atau Masjid Mercusuar
Hasil gambar untuk masjid memorial tiongkok  Berkas:Huaisheng Mosque Dec 2007.jpg
Sudut-sudut Masjid Huaisheng atau Masjid Mercusuar
Ketika Dinasti Tang berkuasa, Cina tengah mencapai masa keemasan dan menjadi kosmopolitan budaya. Sehingga, dengan mudah ajaran Islam tersebar dan dikenal masyarakat Tiongkok. Masa kejayaan Islam di Cina terjadi pada masa Dinasti Ming (1368-1644 M). Dalam bahasa Cina, Ming berarti gilang-gemilang (Arab: Munawwarah). Dinasti Ming berdiri setelah berhasil menaklukkan Dinasti Yuan yang berkuasa sejak tahun 1279-1368 M. Pimpinan pemberontakan Dinasti Yuan dipimpin oleh Jenderal Kok Tze Hin, seorang panglima Muslim. Kok Tze Hin kemudian menyerahkan pimpinan pasukan revolusi kepada menantunya, Chu Yuan Chang (Emperor Chu). Ia berhasil merebut Kota Nanking beserta wilayah selatan Yang Tze King, dan bagian utara ibu kota Khanbalik, yakni Peking.
Pada dinasti Ming inilah, Islam berkembang sangat pesat di Cina. Umat Muslim pun mendominasi kegiatan ekspor dan impor. Kantor direktur pelayaran secara konstan dipegang oleh Muslim selama periode ini. Pada masa Dinasti Ming, umat Islam secara penuh berintegrasi (berbaur) dengan masyarakat Han. Sebagian di antara mereka mengadopsi nama Muslim. Termasuk, berbusana Muslim dan cara makan ala Islam.
Pada awal permulaan dari Dinasti Ming (1368-1644 M), Islam telah tumbuh di Cina selama 700 tahun. Sebelum masa ini, Muslim mempertahankan perbedaan--sebagai pihak asing di mana menunjukkan budaya, bahasa, dan tradisi yang berbeda dan tidak bisa terintegrasi secara penuh dengan masyarakat Han. Namun di bawah Dinasti Ming, Muslim terintegrasi secara penuh pada masyarakat Han. Di antaranya, perubahan nama yang mulai menggunakan nama Islam kendati dalam bahasa Cina.
Kebanyakan Muslim yang menikahi perempuan Han mengikuti nama istrinya. Lainnya, menggunakan nama marga Cina seperti Mo, Mai, dan Mu yang diadposi para pemilik nama Muhammad, Mustafa, dan Masoud. Yang tidak bisa menemukan nama yang mirip dengan nama aslinya menggunakan nama yang digabungkan seperti Ha untuk Hasan, Hu untuk Husein, dan Sai untuk Said.
Begitu juga dengan nama Islam, orang Cina menyebutnya, Yisilan Jiabao, yang berarti 'agama yang murni'. Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran 'Buddha Ma-hia-wu' (Nabi Muhammad SAW).

Chaoyang Theatre
Setelah selesai melaksanakan sholat di Masjid Niujie, kami menuju Chaoyang Theatre untuk menyaksikan akrobatik show yang sangat terkenal di Beijing. Berbagai pertunjukan akrobat dan ketangkasan selama sekitar satu jam sungguh memukau. Tidak heran kalau atlit-atlit senam china mendominasi pentas olah raga dunia, sepertinya mereka dari kecil sudah terlatih dengan senam dan akrobat. Cukup menghibur, setelah lelah seharian berjalan menapaki beberapa lokasi wisata di Beijing. kebanyakan pemainnya masih berusia muda,kira-kira dari usia belasan tahun sampai usia dua puluhan, mereka berputar, melompat, meliuk, berjungkir balik dan menekuk anggota badannya dengan sangat lentur. Disamping beberapa tarian ada juga beberapa akrobat yang ditampilkan seperti beberapa pengendara motor yang mengendarai sepeda motornya didalam rangka bola raksasa dari besi atau baja, yang  berputar2 secara bersamaan.
    Pertunjukan akrobatik Cina
    Hasil gambar untuk akrobatik show di beijing  Hasil gambar untuk akrobatik show di beijing
                                       Berbagai pertunjukan yang ada di Chaoyang Theatre
Hari sudah cukup gelap ketika kami selesai menyaksikan pertunjukan di Chaoyang Theatre. Perut kami  sudah memberikan isyarat untuk saatnya menuju rumah makan yang menyajikan Peking Roasted Duck atau Beijing Kaoya atau biasa di sebut Bebek Peking, adalah makanan khas Beijing yang wajib dicicipi.  Beberapa orang menganggap makanan ini menjadi salah satu resep paling lezat di dunia dan sebagian besar pengunjung ke ibukota China Beijing (sebelumnya peking), belum lengkap berkunjung ke Beijing kalau belum coba yang satu ini. Hati-hati dengan status halalnya, sebaiknya kita tidak asal masuk rumah makan, tetapi memilih rumah makan yang jelas-jelas diperuntukan untuk muslim. Secangkir teh china yang sangat nikmat menutup acara makan malam saat itu.
Selesai makan malam, kami segera menuju hotel dimana kami menginap, untuk melepas lelah setelah seharian berkeliling-keliling Kota Beijing.
Hari kedua di Beijing, tubuh kami sudah lebih fresh dan lebih bisa beradaptasi dengan lebih baik dengan musim semi di Beijing, agenda hari ini kami akan mengunjungi Jade Museum, Great Wall, Burning cream centre, Beijing National Stadium atau Bird Nest Stadium.


Museum Giok Bona Jade / Jade Museum
Bagi masyarakat China, giok alias jade bukan sekedar perhiasan. Giok adalah kepercayaan yang dipakai untuk mengharapkan kesehatan dan keberuntungan yang berlimpah. Maka tidak heran, giok kerap ditemukan di rumah-rumah atau dipakai sebagai perhiasaan baik itu berupa kalung, gelang, cincin, gantungan atau hiasan. "Giok itu makin lama pemakaiannya, makin mahal harganya. Giok yang baru justru tidak berharga. Pakai dulu baru bisa dijual," kata salah satu staf di Museum Giok Bona Jade, di Changping, Beijing. Di Museum giok Bona Jade yang merupakan milik pemerintah tersebut, sekaligus menjadi salah satu pusat penjualan giok terbesar di China yang menjual ribuan jenis giok.
Memasuki museum seluas 6.000 meter persegi itu, pengunjung langsung disambut beberapa hiasan giok berbentuk ikan mas besar atau Jin Yu, Biksu dan anak naga atau Pi Xi. Giok ikan mas tersebut, biasa diletakkan di bagian depan rumah karena dipercaya membawa hoki mendatangkan kekayaan. Giok berbentuk kepala anak naga atau Pi Xi menjadi simbol yang fungsinya tidak jauh beda dengan Jin Yu, yakni diyakini bisa mengumpulkan uang bagi penghuni rumah dan satu lagi, bisa mencegah rumah dari hantu. "Anak naga itu makannya emas dan perak tetapi tidak dikeluarkan. Selain buat pajangan di rumah, bentuk anak naga bisa juga dibuat untuk hiasan kalung atau gantungan kunci," staf museum tadi lebih lanjut. Ia menambahkan, Pi Xi harus diletakkan dengan posisi kepala menghadap pintu atau jendela atau arah depan rumah. "Semakin besar mulut dan bagian belakang anak naga, maka khasiatnya semakin bagus". Kedua model giok tersebut merupakan jenis giok lembut yang bisa dibentuk menjadi ukiran. Sedangkan jenis giok keras biasanya dibuat untuk perhiasan.  Giok pun tidak melulu berwarna hijau karena ada 32 macam warna giok seperti merah, ungu, kuning, dan cokelat meskipun warna hijau memang dipercaya yang paling bagus. Selain itu, giok keras juga memiliki level kualitas yang berbeda. Staf museum tadi lalu mengangkat tangan kanan dan kirinya yang masing-masing memegang gelang dari batu giok.  Kedua gelang itu sama-sama berwarna hijau. Lalu, mana gelang yang memiliki kualitas giok nomor satu? Ternyata, ada beberapa tips untuk mengenal giok yang memiliki kualitas paling bagus, antara lain diketahui dari nyaring suaranya. "Semakin nyaring, maka kualitasnya makin bagus," ujar staf tadi. Selain itu, giok yang terasa lebih dingin juga dijamin mengandung zat mineral yang lebih besar. Tips lainnya, dilihat dari warna yang semakin gelap, kilap dan tembus cahaya serta dari beratnya, jadi Giok bukan soal ukuran besar atau kecil, Kegemaran masyarakat China terhadap giok tidak lepas dari sejarah karena giok memang bagian dari kebudayaan China.
Pada masa kuno, giok hanya bisa dimiliki orang-orang kaya saja. Sampai sekarang, giok bahkan dinilai lebih berharga ketimbang emas, Orang Cina lebih suka menyimpan giok daripada emas. Oleh sebab itu, harga giok pun tidak murah. Di Bona Jade yang menyediakan giok dari berbagai macam provinsi seperti Yunan, Xinjiang, Liaoning, bahkan Burma itu dijual dengan kisaran 100 yuan hingga 2 juta yuan (1 yuan sekitar Rp2.200). Setelah menyempatkan untuk membeli beberapa perhiasan giok sebagai kenang-kenangan ,selanjutnya kami menuju bus yang mengangkut kami untuk melanjutkan perjalanan kami. Sasaran selanjutnya adalah kami menuju great wall atau tembok china.
   
Beberapa koleksi yang ada di Museum Giok
Great Wall / Tembok Raksasa
Berkunjung ke Beijing tidak lengkap rasanya tanpa singgah di The Great Wall of China. Bangunan yang dibangun selama tiga dinasti ini merupakan tembok raksasa buatan manusia yang terpanjang di dunia, dan termasuk salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Panjang keseluruhan The Great Wall of China adalah 8.851 km. Namun dari tahun ke tahun tembok ini mengalami kerusakan, sebagian besar diakibatkan oleh pembangunan infrastruktur yang serampangan, pencurian artefak dan renovasi bagian-bagian tembok yang dilakukan sembarangan.
The Great Wall of China terbagi ke dalam empat sektor yaitu, Simatai, Bataling, Juyongguan, dan Mutianyu. Saat ini kami berkesempatan untuk singgah di sektor Juyongguan. Local Guide di sana mengatakan bahwa Juyongguan dan Bataling memang adalah sektor yang paling ramai dikunjungi wisatawan, karena di sektor ini kita bisa mendapatkan pemandangan yang paling bagus. Sementara di Simatai meski kita bisa mengunjungi titik tertinggi dari bagian tembok China yaitu pos jaga Wangjinglou dengan ketinggian 986 meter di atas permukaan laut, tapi jalanan menuju ke sana sangat curam dan menantang, memakan waktu sampai 2,5 jam dari kota Beijing.
Tembok Besar Tiongkok atau Tembok Raksasa Tiongkok , juga dikenal di Tiongkok dengan nama Tembok Sepanjang 10.000 Li ( Wànlĭ Chángchéng ) , Menurut catatan sejarah, setelah tembok panjang dibangun oleh Dinasti Ming, barulah dikenal istilah "changcheng" (长城, "tembok besar" atau "tembok panjang"). Sebelumnya istilah tersebut tidak ditemukan. Istilah Tembok Besar Tiongkok dalam Bahasa Mandarin adalah "wanli changcheng", bermakna "tembok yang panjangnya 10 ribu li". Pada masa sekarang istilah ini resmi digunakan.
Tembok Besar Tiongkok tidak panjang terus menerus, tetapi merupakan kumpulan tembok-tembok pendek yang mengikuti bentuk pegunungan Tiongkok utara. Pada tanggal 18 April 2009, setelah investigasi secara akurat oleh pemerintah Republik Rakyat Tiongkok, diumumkan bahwa tembok raksasa yang dikonstruksikan pada periode Dinasti Ming panjangnya adalah 8.851 km.
Pada tahun 2009, Badan Survei dan Pemetaan dan Badan Administrasi Warisan Budaya Republik Rakyat Tiongkok melakukan penelitian untuk menghitung ulang panjang Tembok Besar Tiongkok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tembok Besar Tiongkok lebih panjang daripada rentang yang saat ini diketahui. Menurut pengukuran, panjang keseluruhan tembok mencapai 8.851 km. Proyek tersebut juga telah menemukan bagian-bagian tembok lain yang panjangnya 359 km, parit sepanjang 2232 km, serta pembatas alami seperti perbukitan dan sungai sepanjang 2232 km. Rentang rata-rata Tembok Besar Tiongkok adalah 5000 km, umumnya dikutip dari berbagai catatan sejarah.
Berdasarkan bukti tertulis yang bisa diterima umum, pada dasarnya Tembok Besar Tiongkok dikonstruksikan mayoritas pada periode Dinasti Qin, Dinasti Han dan Dinasti Ming. Namun, sebagian besar rupa tembok raksasa yang berdiri pada saat ini merupakan hasil dari periode Ming. Tembok Besar Tiongkok dianggap sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Pada tahun 1987, bangunan ini dimasukkan dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.
  Hasil gambar untuk great wall
 
Sudut-Sudut Tembok Raksasa

Tembok Raksasa pada periode Dinasti Qin
Sebelum periode Dinasti Qin, pembangunan tembok raksasa paling awal dilakukan pada Zaman Musim Semi dan Gugur (722 SM-481 SM) dan Zaman Negara Perang (453 SM- 221 SM) untuk menahan serangan musuh dan suku-suku dari utara Tiongkok. Negeri-negeri yang tercatat berkontribusi dalam konstruksi pertama antara lain negeri Chu, Qi, Yan, Wei dan Zhao. Dalam periode-periode berikutnya, tembok raksasa bertambah panjang, diperbaiki dan dimodifikasi.
Pada tahun 220 SM di bawah perintah Kaisar Qin Shi Huang, Jendral Meng Tian mengumpulkan tenaga kerja sebanyak 300 ribu orang untuk menyambungkan tembok-tembok sebelumnya sebagai garis pertahanan. Pembangunan yang memakan waktu 9 tahun memerlukan biaya mahal dan mengorbankan rakyat jelata. Tenaga kerja yang jadi korban mencapai jutaan jiwa sehingga negara menjadi lemah. Kebencian rakyat pada kerja paksa tersebut memicu kemarahan petani yang berontak menggulingkan Dinasti Qin. Setelah itu, pembangunan tembok raksasa tidak dilanjutkan.
 Peta Tembok Raksasa pada periode Dinasti Qin
Tembok Raksasa pada periode Dinasti Han
Tahun 127 SM, saat Kaisar Han Wudi berkuasa (140 SM-87 SM), proyek renovasi dan pembangunan bagian-bagian tembok lama dilaksanakan selama 20 tahun menambah panjang tembok secara keseluruhan menjadi 1000 km. Pada periode pertama Han, tembok raksasa berfungsi sebagai pelindung kawasan barat dari Bangsa Hun yang mengancam rakyat Tiongkok. Setelah pengaruh Hun melemah, pembangunan tembok tidak dilanjutkan. Mulai tahun 39 M, atas perintah Guang Wudi, jendral Ma Cheng memulai kembali proyek pembangunan tembok besar. Pada saat itu, bangsa Hun terpecah menjadi 2 bagian, utara dan selatan. Bangsa Hun utara berhasil ditundukkan oleh Han sementara bagian selatan berdamai. Setelah itu, pembangunan tembok raksasa ditinggalkan karena Tiongkok sudah mempunyai kekuatan militer yang besar.
 Peta Tembok Raksasa pada periode Dinasti Han
Tembok Raksasa pada periode Dinasti Ming
Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), setelah menaklukkan bangsa Mongol, tembok raksasa dari periode sebelumnya dikonstruksikan kembali, dengan catatan panjang 5.650 km. Pada masa ini, Tembok Besar Tiongkok dibagi ke dalam 9 distrik militer yang dilengkapi benteng-benteng pertahanan dan pintu gerbang untuk mengawasi daerah perbatasan. Di atasnya dibuat jalan sebagai jalur transportasi. Pintu gerbang paling timur dinamakan Shanhaiguan dan pintu gerbang paling barat dinamakan Jiayuguan.
 Peta Tembok Raksasa pada periode Dinasti Ming

Menara Suar Pada Tembok Raksasa

Menara suar atau fenghuotai digunakan untuk menyampaikan pesan militer dengan cara membuat sinyal asap pada siang hari dan api pada malam hari untuk memberitahukan adanya gerak-gerik musuh. Merupakan salah satu bagian tembok besar terpenting, struktur ini dibuat di tiap bagian tembok raksasa dengan material local. Di daerah pegunungan, tersusun dari batu bata, di padang rumput atau gurun terbuat dari tanah liat. Bentuk bisa bulat, lonjong dan persegi. Terdapat 3 jenis menara suar, yakni tipe yang dibangun di atas tembok, dalam tembok atau dibangun terpisah untuk mengintai musuh.
                                  Hasil gambar untuk tembok raksasa cina
                                                                          Menara suar di tembok Mutianyu

Pintu Gerbang (Celah) Pada Tembok Raksasa
Struktur pintu gerbang berfungsi sebagai benteng pada posisi-posisi penting, Tersusun dari:
  1. Chengqiang atau tembok pertahanan, dengan tinggi maksimal 10 meter. Bagian luar terbuat dari batu bata besar atau batu granit. Bagian dalam terbuat dari tanah kuning atau campuran batu-batu kerikil.  Di atas tembok dapat dilalui penunggang kuda. Di sisi tembok terdapat tembok pelindung berbentuk persegi sebagai tempat untuk mengawasi dan berlindung.
  2. Chenglou atau menara gerbang: pintu untuk keluar masuk perbatasan, sebagai tempat keluarnya pasukan saat menyerang musuh. Gerbang dinamakan sesuai dengan nama celah.
  3. Wangcheng: tembok kecil di luar tembok besar yang berfungsi sebagai pelindung pintu gerbang.
  4. Luocheng: tembok kedua untuk melindungi wengcheng
  5. Parit dan saluran air dalam untuk memperlambat gerakan musuh, memberi kesempatan untuk menyerang dengan cepat.
                                          
                                               Gerbang Shanhaiguan               Gerbang Joyungguan

Tembok

Tembok merupakan badan utama arsitektur tembok raksasa. Fungsinya menghubungkan menara suar, menara pengintai dan pintu gerbang menjadi sebuah garis pertahanan. Ketinggiannya tergantung pada bentuk dataran.  Pada daerah-daerah strategis dibuat lebih tinggi. Pada saat melintasi gunung atau daerah dengan bentuk tidak rata dibuat serendah mungkin untuk menghemat bahan dan tenaga. Rata-rata tinggi tembok 23-26 kaki.
Bagian-bagian penting di tembok:
  • nuqiang (女牆), tembok pelindung di sisi atas struktur tembok. Dibangun untuk melindungi tentara dan kuda di atas tembok. Jika tembok raksasa melintasi sisi gunung curam, hanya dibangun satu buah nuqiang untuk menghemat bahan.
  • duokou () tembok bercelah untuk mengintai. Doukou ini masih dilapisi oleh lapisan tembok lagi sebagai pelindung. jalur kuda:jalan setapak di sebelah menara pengintai yang bisa dilewati penunggang kuda untuk mencapai bagian atas tembok
  • quanmen: pintu melengkung di bagian dalam tembok sebagai jalan masuk ke atas tembok.
    
            Tembok Badaling                       Tembok Jiayuguan                 Tembok antara Simatai dan Jinshanling

Material Tembok Raksasa

Material yang digunakan untuk membuat tembok raksasa beda-beda sesuai periode dinasti. Sebelum batu bata ditemukan, tembok besar dibuat dari tanah, batu dan kayu. Karena pembangunannya selalu membutuhkan sumber daya yang banyak, para pekerja memanfaatkan bahan-bahan yang seadanya. Saat melewati gunung, batu gunung akan digunakan. Pada saat membangun di tanah datar, tembok dibuat dari tanah yang digemburkan dan jika melewati padang gurun, bahan yang digunakan adalah rerumputan campur pasir dan ranting-ranting pohon konifer. Tembok dari bahan ini rapuh, mudah ditembus dan cepat hancur.
Pada masa Dinasti Qin, teknologi belum maju, sehingga material yang digunakan adalah tanah atau tanah campur kerikil. Pada masa itu struktur benteng belum didirikan. Beberapa bagian tembok hanya terdiri dari gundukan batu-batu besar.
Pada masa Dinasti Han, bahan tanah dan batu seperti masa sebelumnya masih umum digunakan.
Pada masa Dinasti Tang, batu bata sudah diproduksi. Namun, karena mahal, hanya terbatas pada gerbang kota dan tembok yang dekat.
Baru pada zaman Dinasti Ming, teknologi pembangunan tembok sudah lebih maju. Namun, baru pada pertengahan periode dinasti tersebut batu bata berkualitas diproduksi. Batu bata lebih baik daripada tanah atau batu kerikil karena lebih ringan, tahan beban dan lebih efektif dalam waktu yang cepat. Batu masih dipakai, terutama untuk fondasi, pinggiran luar dan dalam gerbang dikarenakan lebih kuat daripada batu bata. Adukan batu kapur dengan beras ketan efektif sebagai semen yang dapat merekatkan batu bata.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               
Bird Nest Stadium
Beijing National Stadium atau yang lebih dikenal dengan nama Bird Nest Stadium adalah salah satu ikon Olimpiade 2008. Kemegahan dan kerumitan arsitekturnya menjadi keunikan tersendiri yang membuat stadion ini sangat khas dibanding stadion-stadion lain didunia.
Stadion yang lebih dikenal sebagai 'sarang burung' terbesar di dunia ini , memiliki luas  333 x 294 meter persegi ini memang terlihat menawan saat bus yang membawa kami dan rombongan memasuki area Olympic Green, yang menjadi pusat penyelenggaraan Olimpiade Beijing pada 2008 lalu. Desain luarnya memang sungguh tak biasa, tampak tak beraturan, namun sangat  menawan. Kulit luar stadion berkapasitas 80 ribu penonton ini didesain mirip seperti sarang burung. Desain ini diambil dari salah satu bagian ilmu keramik Tiongkok. Seorang seniman ternama Tiongkok, Ai Weiwei, menjadi konsultan untuk desain stadion.
Bagian yang mirip sarang burung itu dibuat dari material baja. Selain sisi artistik, bagian itu memiliki fungsi melindungi bagian atap stadion yang bisa dibuka tutup.
Masuk ke bagian dalam stadion, pengunjung akan dibuat terpikat desain langit-langit ruangan yang ada di stadion itu. Sama seperti bagian luar, desain langit-langitnya pun tak dibuat sederhana, lagi-lagi ketidaberaturan yang menawan.
Bagian stadion yang dimasuki dari pintu barat disebut Gold Hall. Hal ini dikarenakan dinding yang berada disisi jalan sesaat akan menuju eskalator itu berwarna emas. Membuat pengunjung merasa sedang memasuki bangunan yang benar-benar mewah. Sesampainya di ujung elevator, terdapat ruang tunggu dan pertemuan VIP. Terdapat lukisan berbagai olahraga tradisional China di dinding ruang tunggu. Ada juga ornamen berbentuk burung di bagian pintu dan dinding yang makin menegaskan bahwa tempat itu layak dijuluki sarang burung. Stadion yang pembangunannya menghabiskan dana US$ 428 juta ini memang jelas terlihat kemegahannya.
      
Bird Nest Stadium saat malam hari
           
Bird Nest Stadium saat sore hari

Water Cube - Beijing National Aquatics Center

Selain daripada Bird Nest, bangunan menarik yang terletak di hadapan Stadium sarang burung ini adalah Water Cube. Water Cube adalah bangunan kotak berwarna biru dengan pola gelembung air irregular dengan luas lantai 70 ribu meter persegi , kapasitas lima kolam dan 17 ribu penonton yang menjadi tempat penyelenggaraan pertandingan berenang , loncat indah , renang indah , diving dan polo air pada even Olimpiade Beijing 2008 yang silam
Frame kotak pada Water Cube disusun oleh pipa baja yang terhubung dalam 12 ribu titik beban, dibungkus dengan lapisan membran seluas 100 ribu meter persegi membentuk keindahan bangunan dan efisiensi energi.  Sang arsitek mengklaim bahwa panel permukaan akan menghemat energi sebesar 30% untuk penyediaan  cahaya dan dan menjaga temperatur tetap terjaga.
Temperatur untuk kolam renang pertandingan dikontrol dengan menggunakan energi matahari dan air yang mengisi kolam melalui prosedur penyaringan ganda.  Struktur geometri pada permukaan bangunan berbentuk gelembung air yang melambangkan kebahagiaan dan ketenangan. Gelembung-gelembung terhubung satu sama lain membentuk kluster sirkular  yang melambangkan langit . Bentuk kotak secara keseluruhan melambangkan bumi. Pasangan "Water Cube" yang berbentuk kotak dan "Bird Nest" yang sirkular juga melambangkan kosmologi dalam budaya Tionghua.
               
Water Cube saat malam hari
Udara musim semi dipagi hari terasa sangat dingin ketika kami bangun dari tidur di hari ketiga kami dibeijing. Agenda hari ini kami akan mengunjungi beberapa tempat wisata lain yang ada di Beijing, seperti : summer palace, Beijing zoo/panda palace,wangfujing shopping street, xiu shui market.

The Summer Palace
The Summer Palace atau Yihe Yuan atau dalam Bahasa Indonesia menjadi Istana Musim Panas adalah istana yang terletak di Barat Laut Distrik Haidian, Beijing, berjarak sekitar 15 km (9,3 mil ) dari pusat kota Beijing. Summer Palace meupakan taman terindah di Tiongkok yang terkenal akan pemandangan alamnya dan sejarah budayanya sehingga The Summer Palace dijuluki sebagai “The Museum of Royal Garden”.
The Summer Palace mulai dibangun pada tahun 1750 pada zaman Dinasti Jin, dan digunakan sebagai area hiburan serta taman kerajaan yang mewah untuk para anggota keluarga kerajaan. Pada awal pembuatan mempunyai nama Taman Qingyi. Namun pada masa – masa akhir pemerintahan Dinasti Qing, taman ini berubah kegunaanya menjadi tempat permukiman para keluarga raja. Menurut catatan sejarah, The Summer Palace ini juga merupakan tempat peristirahatan terakhir Ibu Suri Cixi.
The Summer Palace memiliki luas sekitar 300 hektar, yang mencakup lebih dari 3.000 bangunan. Area bangunan lebih dari 70.000 meter persegi, termasuk pavilliun, menara, jembatan, dan koridor. Bangunan ini merupakan gabungan dari gedung-gedung yang disatukan secara serasi, merefleksikan hubungan harmonis antara manusia dan alam sekitarnya. Tiga perempat bagian dari Summer Palace adalah air yang terbentuk sebagai Danau Kunming.

Front-Hill Area

Front-Hill Area merupakan wilayah dari kompleks Summer Palace yang mempunyai bangunan terbanyak, dimana bangunan-bangunan di tempat ini didesain secara simetris antara bagian barat dengan bagian timur dilengkapi dengan taman yang indah dengan pusatnya adalah Tower of Buddhist Incese. Tower ini mempunyai desain ala China klasik dengan bentuk oktagonal. Bangunan dengan desain yang cukup megah dengan ketinggian 41 meter menjadi proyek pembangunan yang terbesar pada masa itu,dan menghabiskan dana sebesar 780 ribu tael perak.
Hasil gambar untuk summer palace beijing Hasil gambar untuk summer palace beijing

Air danau Kunming membeku pada saat musim dingin

 

 

 

 

Lake Area

Wilayah ini mencakup area yang luas dengan total jembatan yang ada sekitar 30 jembatan di kompleks istana ini. Di sini terdapat Seventeen-Arch Bridge yang merupakan jembatan terbesar di Summer Palace dengan panjang 150 meter dan lebar 8 meter. Jembatan ini menghubungkan antara Danau Kunming bagian barat dengan Pulau Nanhu yang ada di sebelah timur.
Hasil gambar untuk summer palace beijing 
Jembatan yang ada di Danau Kunming
Taman yang indah ini pernah hancur pada saat serangan Pasukan Sekutu Anglo-Perancis kemudian dikembalikan ke fondasi awal pada tahun 1886 setelah sebagian besar hancur karena perang pada tahun 1860.  Namanya kemudian diubah menjadi Yuan Ming Yuan dan terakhir menjadi Yihe Yuan oleh Ibusuri Cixi pada tahun 1881. Perubahan terakhir disertai renovasi besar-besaran. Setelah renovasi itu, Ibusuri Cixi kemudian tinggal disana. 
Menurut catatan sejarah, nama The Summer Palace ini bukanlah nama sebenarnya, nama aslinya ialah Qingyi Garden yang menggabungkan kekayaan dan keindahan alam seperti bukit dan perairan dengan bangunan buatan manusia seperti paviliun,balai, kuil, istana dan jembatan. Nama tersebut diganti setelah rekonstruksi pertama pada tahun 1888. Pada tahun 1924, taman ini dibuka secara umum, dan pada tahun 1998 Summer Palace ditetapkan oleh UNESCO sebagai situs warisan dunia dan mendapatkan peringkat sebagai tempat wisata terbaik di Tiongkok.

  

        Sudut-Sudut Summer Palace

 

 

 

Beijing Zoo/Panda House

Tak lengkap rasanya kalau ke Beijing tidak menengok hewah khas dari Cina yang berwarna hitam dan putih. Apalagi kalau bukan panda. Hewan yang satu ini merupakan hewan yang hidup di daerah pegunungan di Cina. Makanan hewan ini adalah rebung atau pohon bambu yang masih muda. Anda dapat menemukan hewan ini di Panda House yang ada didalam Kebun Binatang Beijing (Beijing Zoo). Kebun binatang ini terletak di Distrik Xicheng, tidak jauh dari Istana Terlarang. Kebun binatang ini berdiri di atas tanah seluas 200 hektar. Beijing Zoo, seperti kebun binatang pada umumnya, memilki koleksi binatang yang variatif. Tapi yang jadi primadona adalah Panda House, tempat binatang khas China berada. Jika ingin melihat panda beraktivitas harus datang pagi hari saat mereka makan karena setelah makan mereka lebih banyak tidur.
Hasil gambar untuk kebun binatang panda di beijing Hasil gambar untuk kebun binatang panda di beijing Hasil gambar untuk kebun binatang panda di beijing
       Panda di Kebun Binatang Beijing
Wangfujing Shopping Street
Pada sore harinya kami menyempatkan jalan-jalan ke kawasan perbelanjaan ‘ Wangfujing Shopping Street ‘, Letaknya di tengah kota, berdekatan dengan Forbidden City dan Tiananmen Square sekitar 2,5 km. Dikawasan perbelanjaan yang cukup ramai ini kita bisa memperoleh banyak barang-barang souvenir atau sekedar untuk kenang-kenangan, kita harus berani untuk melakukan tawar menawar, karena harga yang ditawarkan penjual biasanya belum pasti, dan kalau kita beruntung kita bisa menawar sampai setengahnya atau bahkan lebih dari itu.
Belanja memang melekat dengan Wangfujing, Selama berabad-abad, Jalan Wangfujing yang sebenarnya adalah jalanan sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer yang cukup lebar, menyuguhkan berbagai aktivitas perniagaan di Beijing. Saat ini, tempat ini sangat populer di kalangan pembelanja dan wisatawan yang berduyun-duyun datang untuk mencari pakaian murah dan unik. Salah satu jalanan di Beijing ini boleh dibilang adalah tempat belanja favorit, gak hanya untuk turis asing dan domestik, tapi juga warga Beijing sendiri. Ada banyak bangku, bar, restoran, dan kafe di jalan raya komersial yang sibuk ini, semuanya menawarkan banyak pilihan beristirahat. Umumnya para pengunjung akan berjalan-jalan menyusuri jalanan tersebut. Di kiri-kanannya, ada deretan toko mulai dari yang menjual pakaian, pernak-pernik, barang elektronik, tekstil, mainan sampai makanan dan minuman. Dari mulai toko modern bermerk sampai toko kelontong tradisional lengkap ada di sini. Wangfujing lebih ramai lagi mulai sore hingga tengah malam, Gemerlapnya lampu dan banyaknya lalu lalang orang melintasi jalan ini di malam hari, bikin pemandangan di kawasan ini meriah. Asyiknya, kita bisa jalan santai di Wangfujing. Gak khawatir ditabrak kendaraan. Soalnya kawasan ini memang sengaja tertutup buat kendaraan bermotor.
      
                                                                                     Jalan Wangfujing
Penulis :

Nama                                    : Abu Raihan alias Yoyon Indrayana
Tempat tanggal lahir       : Malang, 22 juli 1966
Alamat                                  : Perumahan Graha pitaloka C-11, Jl. Sekar Kemuning
                                                  RT.002/RW.013, Kel.Karyamulya, Kec.Kesambi,Kota Cirebon
Npmpr HP                           : 0812 8402 4994
menunjukkan pukul 08.00 waktu Beijing, ketika pesawat Airbus 330 CHINA AIR,dengan nomor penerbangan CA 978 yang membawa kami dan rombongan dari Jakarta mendarat di Běijīng Shǒudū Guójì Jīchǎng, Bandar udara internasional di Beijing, Republik Rakyat Tiongkok. Bandara ini berlokasi di Distrik Chaoyang, 32 km (20 mi) timur laut dari pusat kota Beijing. Bandara ini dimiliki dan dioperasikan oleh Beijing Capital International Airport Company Limited, sebuah perusahaan yang dikontrol oleh pemerintah. Bandara Ibu Kota yang menjadi pusat  operasi  Air China, maskapai penerbangan nasional di Republik Rakyat Tiongkok, yang terbang ke sekitar 120 tujuan (tidak termasuk kargo) dari Beijing. Hainan Airlines dan China Southern Airlines juga menggunakan bandara ini sebagai jalur perhubungan mereka. Bandar Udara Internasional Ibu kota Beijing merupakan bandara tersibuk kedua di dunia berdasarkan trafik penumpang.

  
Běijīng Shǒudū Guójì Jīchǎng, Bandar udara internasional di Beijing

Hari itu sabtu, 14 april 2018, hawa dingin menerpa begitu kami menuruni tangga pesawat, setelah terbang selama kurang lebih 7(tujuh) jam diketinggiaan 40.000 kaki(feet) rasanya tubuh ini perlu segera beradaptasi dengan kondisi dan cuaca setempat, saat itu di Beijing masih musim semi. Musim semi yang berlangsung dari bulan Maret hingga awal Juni dianggap sebagai musim terbaik untuk mengunjungi China, Udara saat musim semi terasa sejuk, Bunga mawar tiongkok (rosa chinensis) dan seruni (chrysanthemum morifolium) dengan beraneka warna merah, kuning dan putih pun mulai bermekaran di sepanjang jalan. Udara yang masih cukup dingin kala itu, tidak terlalu menjadi hambatan bagi kami, Di pagi hari dan menjelang petang suhu udara berkisar antara 7-9 derajat celcius, namun di siang hari bisa mencapai 26 derajat celcius. Belakangan kami ketahui, seminggu sebelum tanggal kedatangan kami, salju masih sempat turun dan sungai utama yang mengalir melalui kota ini, yaitu Sungai Yongding dan Sungai Chaoba airnya membeku.
Kami disambut  Ms. Hani, seorang local guide yang cukup lancar berbahasa Indonesia yang selanjutnya mengajak kami untuk naik ke dalam Bus yang sudah disiapkan untuk menemani rombongan kami sebanyak 16 orang bejalan-jalan keliling Beijing. Beijing (Tionghoa: 北京; Pinyin: Běijīng; Wade-Giles: Pei-ching ) adalah ibu kota Republik Rakyat Tiongkok dan salah satu kota terpadat di dunia, dengan populasi kurang lebih 25.000.000 pada tahun 2018, Beijing merupakan kota terbesar kedua di Tiongkok setelah Shanghai dari segi populasi perkotaan dan merupakan pusat politik, budaya, dan pendidikan. Beijing adalah kota markas dari sebagian besar perusahaan BUMN terbesar Tiongkok dan pusat utama jalan raya nasional,jalan tol, jalur kereta api, dan jaringan rel kereta cepat.
Beijing menjadi tuan rumah Olimpiade 2008 dan terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022, yang akan membuatnya menjadi kota pertama yang pernah menjadi tuan rumah kedua iven tersebut.

Tiananmen Square
Pada hari pertama kami di Beijing ini ada beberapa destinasi wisata yang akan kami kunjungi. Yang pertama kami datangi adalah Tiananmen Square, adalah alun-alun yang terletak di tengah kota Beijing, persis berhadapan dengan Forbidden City. Nama Tiananmen sendiri diambil dari nama gerbang masuk yang ada di Forbidden City (Kota Terlarang) yang memiliki arti The Gate of Heavenly Peace (gerbang kedamaian surgawi). Gerbang tersebut terletak di sebelah utara Lapangan Tiananmen , pertama kali dibuat pada masa Dinasti Ming, Tiananmen telah menjadi salah satu simbol terpenting Tiongkok sampai sekarang. Tembok gerbang tersebut memiliki panjang 66 meter, lebar 37 meter, dan tinggi 32 meter. Di atasnya ada atap dengan desain tradisional Tiongkok. Di depan gerbang tersebut ada empat patung singa - dua patung persis di depan gerbang dan dua lainnya di jembatan sebelum gerbang - yang dalam budaya Tionghoa diyakini dapat menangkal roh jahat.
Dua plakat raksasa digantung di masing-masing sisi gerbang: plakat kiri tertulis "Panjang Umur Republik Rakyat Tiongkok" (Tionghoa: ; Pinyin: Zhōnghuá rénmín gòngguó wànsuì), sementara plakat kanan tertulis "Panjang Umur Persatuan Rakyat Dunia" (Hanzi: ; Pinyin: Shìjiè rénmín tuánjié wànsuì). Pada tahun 1964, karakter Hanzi tradisional yang digunakan di plakat diganti menjadi karakter Hanzi sederhana. Di antara kedua plakat, tergantung foto pendiri RRT Mao Zedong yang selalu diganti setiap tahunnya. Selain foto Mao Zedong, tokoh lain juga pernah digantungkan fotonya di Tiananmen, seperti Sun Yat-sen dan Chiang Kai-shek pada era Republik Tiongkok, Zhu De yang fotonya pernah disandingkan dengan foto Mao untuk beberapa waktu, dan Joseph Stalin saat kematiannya pada tahun 1953.
Luas Tiananmen Square yang mencapai 440.000 meter persegi menjadikannya sebagai alun-alun terbesar di dunia. Lapangan ini terletak pada koordinat 116°23′17″BT dan 39°54′27″LU. Dengan panjang 800 meter dari utara ke selatan serta lebar 500 meter dari barat ke timur, lapangan ini terletak di luar pintu selatan Istana Kuno Dinasti Ming dan Qing. Di sebelah selatan lapangan ini, ada dibangun sebuah bangunan yang merupakan Mausoleum Ketua Mao. Di dalam bangunan ini, jenazah Ketua Mao Zedong yang diawetkan di dalam kotak kaca ditempatkan. Di sebelah utara lapangan ini ada tiang bendera di mana setiap harinya diadakan upacara penaikan dan penurunan bendera oleh tentara kehormatan. Di lapangan ini tidak boleh ada papan dan poster reklame, bahkan bus dan kendaraan yang melintasi jalan di depan lapangan juga tidak diperbolehkan memiliki reklame di badan bus maupun kendaraan. Peristiwa penting bersejarah yang terjadi di lapangan ini adalah Demonstrasi Tiananmen 1989 yang kemudian berakhir dengan peristiwa berdarah Insiden Tiananmen 1989.
 
Sudut-sudut Tiananmen Square
 
Sudut-sudut Tiananmen Square

Forbidden City
Dari Tiananmen Square Perjalanan dilanjutkan ke Forbidden City, Kota Terlarang (bahasa Inggris: The Forbidden City; bahasa Mandarin: 紫禁城; pinyin: Zǐjìn Chéng) yang dapat diterjemahkan dengan "Kota Terlarang Ungu", sering disebut juga dengan "Istana Terlarang” ialah bekas istana kekaisaran China dan dijadikan tempat tinggal keluarga kaisar selama 500 tahun, terletak persis di tengah-tengah kota kuno Beijing,  dari jaman Dinasti Ming hingga dinasti Qing. Di jaman dahulu tidak ada orang yang boleh keluar masuk komplek istana kecuali atas izin kaisar, sebab itulah disebut sebagai “Kota Terlarang”. Dikenal sebagai "Museum Istana" (bahasa Mandarin:宫博物院; pinyin:Gùgōng Bówùyùan), lokasi ini memiliki luas sekitar 720,000 meter persegi, 800 bangunan dan lebih dari 8.000 ruangan. Kota Terlarang, oleh UNESCO disebut merupakan koleksi terbesar struktur kayu kuno di dunia, dan terdaftar sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1987 sebagai "Istana Kerajaan Dinasti Ming dan Qing". Lokasi istana kerajaan berada di utara dari lapangan Tiananmen dan dapat diakses dari lapangan tersebut melalui Gerbang Tiananmen. Lokasi tersebut dikelilingi oleh suatu wilayah luas yang disebut Kota Kerajaan.
 
Sudut-sudut Forbidden City

 
Sudut-sudut Forbidden City

Temple of Heaven
Tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah Temple of Heaven, Tian Tan () atau dalam Bahasa Indonesia Kuil Surga adalah tempat pemujaan agama Khonghucu & Tao yang terletak di Beijing , Dibagun pada abad 15 M ,tepatnya dimulai tahun 1420 M (Dinasti Ming) dan dibuat di atas lahan seluas 2.700 KM². Arsitekturnya menyimbolkan hubungan bumi dan langit (manusia dan Tuhannya). Ini berkaitan dengan kaisar sebagai anak langit dalam kepercayaan Mitologi Cina. Dibangun sebagai persembahan untuk langit. Ini adalah alasan mengapa Kota Terlarang berukuran lebih kecil, karena kaisar tidak berani membuat tempat tinggal yang lebih besar daripada kuil langit (Tuhan). Tian Tan dikelilingi tembok yang panjang. Di bagian utara dibuat agak bulat menyimbolkan langit dan selatan persegi menyimbolkan bumi. Hal ini selaras dengan pemikiran Tiongkok kuno yang berbunyi Surga itu bulat dan bumi itu persegi.  Bagian utara juga dibuat lebih tinggi dari bagian selatannya.
Hasil gambar untuk temple of heaven Hasil gambar untuk temple of heaven
Sudut-sudut Temple of Heaven
Hasil gambar untuk temple of heaven Hasil gambar untuk temple of heaven
Sudut-sudut Temple of Heaven

Masjid Niujie
Waktu menunjukan pukul 17.00 waktu bagian Beijing ketika kami beserta rombongan keluar dari kuil Surga, selanjutnya kami menuju Masjid Niujie untuk melaksanakan sholat jama takhir, dhuhur dan ashar. Di Beijing ini sebagian besar penduduknya tidak beragama, penduduk yang beragama islam hanya sebagian kecil saja populasinya kurang lebih 200.000 jiwa, kalau dibandingkan dengan penduduk Beijing yang berjumlah kurang lebih 25.000.000 jiwa jelas sangat-sangat sedikit. Fasilitas ibadah seperti masjid pun jarang dijumpai, hanya ada kurang lebih 68 masjid diseluruh kota Beijing yang memiliki luas wilayah kurang lebih 1.368,32 km2.
Masjid Niujie adalah masjid paling tua dan bersejarah di Beijing, ibukota negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Usia masjid ini diperkirakan lebih dari seribu tahun. Memiliki area kompleks seluas kurang lebih 6.000 meter persegi, bangunan Masjid Niujie merupakan masjid terbesar di antara 68 buah masjid yang ada di Beijing. Masjid Niujie ini juga ditandai sebagai  menjadi titik awal masuknya Islam di daratan Cina. Arsitekturnya memperlihatkan campuran arsitektur khas Cina dan Islam. Dari luar, arsitektur bangunan menunjukkan pengaruh Cina tradisional, yakni tipikal bangunan istana Cina. Sedangkan di dalam memperlihatkan gaya arsitektur Islam.
Perpaduan dua gaya arsiktektur ini tidak terlepas dari kebijakan yang diterapkan oleh pemerintahan Dinasti Liao. Kekaisaran Liao menerapkan aturan yang melarang komunitas Muslim setempat mendirikan bangunan dengan gaya arsitektur selain arsitektur tradisional Cina, dengan pengecualian bahwa penggunaan kaligrafi Arab tetap diizinkan pada masa itu.
Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Tonghe dari Dinasti Liao, tahun 996 Masehi, oleh dua orang berkebangsaan Arab. Menilik dari sejarah berdirinya, masjid ini sudah melintasi enam zaman, dari masa kekuasaan Dinasti Liao, Dinasti Song, Dinasti Yuan, Dinasti Ming, Dinasti Qing hingga era Cina modern saat ini. Sejak awal berdiri hingga kini, Masjid Niujie telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan. Di masa pemerintahan Dinasti Ming, bangunan masjid mengalami perbaikan pada tahun 1442. Kemudian diperluas pada tahun 1696, semasa Dinasti Qing berkuasa. Setelah RRT berdiri tahun 1949,  Masjid Niujie telah mengalami tiga kali renovasi, masing-masing di tahun 1955, 1979 dan 1996.
Sebagai masjid tertua dan paling besar di Beijing, tak mengherankan jika masjid ini menjadi pusat komunitas Muslim di kota tersebut yang jumlahnya mencapai 200 ribu jiwa. Masjid ini terletak di kawasan Niujie, Distrik Xuanwu, Beijing. Niujie sendiri dikenal sebagai kawasan padat berpopulasi Muslim terbesar di Beijing. Data terakhir menyebutkan terdapat sekitar 13 ribu warga Muslim yang bermukim di kawasan ini.
Gerbang masuk menuju ke dalam kompleks Masjid Niujie berhadapan dengan tembok besar sepanjang kurang lebih 40 meter yang dihiasi marmer berwarna putih. Interior bangunan didekorasi dengan arsitektur khas Cina dan sentuhan desain Arab yang tidak menampilkan figur manusia dan hewan. Menara pengamat bulan yang terletak di dalam komplek berarsitektur heksagonal dan bertingkat dua. Menara ini tingginya 10 meter, digunakan untuk mengetahui posisi bulan guna menentukan kalender Islam, contohnya waktu berpuasa.  Di sebelah menara terdapat ruangan ibadah, aula utama daripada masjid yang memiliki luas 600 m². Ruangan ini hanya terbuka bagi Muslim dan berkapasitas untuk 1000 , Ruangan ibadah menghadap kiblat dan halamannya berada di sebelah timur.
Pada tahun 1215 Masjid Niujie ini dihancurkan oleh tentara Mongol, kemudian dibangun kembali pada 1443 periode Dinasti Ming dan secara signifikan diperluas pada 1696 pada zaman Dinasti Qing. Sejak zaman Dinasti Qing, pasar di sekitarnya terkenal untuk perdagangan daging sapi dan daging kambing hingga saat ini. Nama masjid yang sebenarnya adalah Lǐbàisì, yang diberikan oleh Kaisar Chenghua pada tahun 1474, karena terletak di Jalan Sapi (Niu berarti sapi dan Jie berarti jalan), masjid ini disebut Masjid Niujie. Sampai sekarang di sekitar wilayah ini banyak warga yang menjual masakan halal, terutama yang menggunakan bahan baku daging sapi, Karenanya tak mengherankan jika kawasan ini dipenuhi oleh restoran-restoran Muslim.
Arsitektur khas Dinasti Qing jelas terlihat pada desain ruangan ibadah, yang berupa aula utama yang hanya terbuka bagi pengunjung Muslim. Langit-langit di depan aula utama didekorasi dengan panel persegi, yang pada tiap sudutnya dilukis dengan desain lingkaran berwarna merah, kuning, hijau dan biru. Pola dekorasi ini serupa dengan pola yang digambar di aula utama di Istana Terlarang. Kaligrafi ayat-ayat Alquran dalam aksara Arab dan Cina, lukisan bunga, serta hiasan kaca berwarna menghiasi ruangan ibadah.
Ruangan ini hanya dapat menampung seribu orang jamaah dan terdiri dari tiga buah koridor yang lapang. Di bagian dalam ruangan ibadah ini terdapat 21 buah tiang yang menyangga bagian dalam bangunan. Ruangan ibadah ini dinamakan juga dengan nama Aula Tungku. Di bagian belakang ruangan terdapat paviliun berbentuk heksagonal (segi enam) yang membuat aula ini tampak seperti tungku.
Di luar bangunan utama, terdapat dua buah paviliun yang pada salah satunya terdapat prasasti batu yang menuliskan tentang sejarah masjid. Prasasti batu tersebut merekam pernyataan Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing setelah dilaksanakannya renovasi besar tahun 1696. Prasasti tersebut menuliskan tentang tanggal pembangunan masjid serta tanggal renovasi dan penambahan bangunan di setiap periode sejak Dinasti Liao (907-1125). Restorasi masjid pada masa pemerintahan Kangxi akhirnya menjadikan bentuknya yang dipengaruhi arsitektur Qing yang juga terlihat pada bangunan-bangunan utama yang didesain pada masa itu.
Menara adzan (minaret) memiliki 2 tingkat dan terletak di tengah-tengah halaman. Pada awalnya menara ini dibangun untuk menyimpan teks tulisan. Pada masa berikutnya mulai digunakan sebagai menara adzan. Saat waktu salat tiba, muazzin akan naik ke menara dan melakukan azan untuk memanggil orang-orang untuk beribadah. Selain itu, komplek masjid juga memiliki perpustakaan yang menyimpan teks Al Quran dan pernah dijadikan sebagai tempat percetakan.  Di sebelah selatan halaman masjid terdapat tempat mengambil air wudhu untuk pria dan wanita.
Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti agama yang murni. Diperkirakan ajaran Islam mulai masuk dan berkembang di dataran Cina pada abad ke-5 Masehi. Adalah Khalifah Utsman bin Affan yang pada waktu itu menugaskan Sa'ad bin Abi Waqqas untuk membawa misi dagang ke daratan Cina. Bahkan kemudian Sa'ad menetap di Cina hingga beliau meninggal pada tahun 635 M, dan dimakamkan di sana.
Di bagian selatan komplek terdapat tanaman pohon cemara dan 2 buah makam bertuliskan aksara Arab milik 2 orang imam asal Persia yang berdakwah di sini, yakni makam Ahmad Burdani (dengan angka tahun 1320) dan Ali (tahun 1283). Tulisan di makam tersebut sangat penting dalam memaparkan tentang sejarah Islam di Tiongkok.
   
Eksterior dan Interior Masjid Niujie

Islam di Tiongkok
Perkembanngan Islam di Tiongkok dimulai ketika tiga Ṣaḥābā (sahabat nabi)—Sa'ad bin Abī Waqqās (594–674), Ja'far bin Abi Thalib, dan Jahsh berkhotbah pada tahun 616/617 di Tiongkok setelah sebelumnya datang dari rute Chittagong-Kamrup-Manipur, setelah berlayar dari Abyssinia pada tahun 615/616. Sa'ad bin Abi Waqqas, paman nabi sendiri dari pihak ibu kembali menuju ke Tiongkok untuk ketiga kalinya pada tahun 650-651 setelah Khalifah Utsman bin Affan, Khalifah ketiga, pada tahun 651, kurang dari dua puluh tahun setelah kematian Nabi Muhammad SAW, memintanya untuk memimpin sebuah delegasi ke Tiongkok, yang diterima dengan hangat oleh Kaisar Tiongkok. Kaisar Gaozong, salah satu Kaisar dari Dinasti Tang yang menerima utusan tersebut kemudian memerintahkan pembangunan masjid peringatan di Kanton, masjid pertama di negara tersebut, untuk mengenang Nabi Muhammad SAW.
Sementara sejarawan modern cenderung berpendapat bahwa tidak ada bukti bahwa Waqqās sendiri pernah datang ke Tiongkok, mereka meyakini bahwa para diplomat dan saudagar Muslim tiba di Tang Tiongkok beberapa dekade dari permulaan Abad Pertengahan (Hijrah). Budaya kosmopolitan Dinasti Tang, bersama kontak intensifnya dengan Asia Tengah dan komunitas penting para pedagang Asia Tengah dan Asia Barat (awalnya non-Muslim) yang tinggal di kota-kota di Tiongkok, yang membantu memperkenalkan Islam.
Sejarah mencatat, Islam masuk ke Cina pada masa Dinasti Tang (618-905 M), yang dibawa oleh salah seorang panglima Muslim, Saad bin Abi Waqqash RA, di masa Khalifah Utsman bin Affan RA. Menurut Chen Yuen, dalam karyanya, A Brief Study of the Introduction of Islam to China, masuknya Islam ke Cina sekitar tahun 30 H atau sekitar 651 M. Ketika itu, Cina diperintah oleh Kaisar Yong Hui (ada pula yang menyebut nama Yung Wei). Data masuknya Islam ke Cina ini dipertegas lagi oleh Ibrahim Tien Ying Ma dalam bukunya, Muslims in China (Perkembangan Islam di Tiongkok). Buku ini secara lengkap mengupas sejarah perkembangan Islam di Cina sejak awal masuk hingga tahun 1980-an.
Sebelumnya, banyak hikayat yang berkembang mengenai masuknya Islam ke Negeri Tirai Bambu ini. Namun, semua hikayat itu menceritakan adanya tokoh utama di balik penyebaran agama Islam di Cina.
Versi pertama menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina dibawa sahabat Rasulullah SAW yang hijrah ke al-Habasha Abyssinia (Ethiopia). Para sahabat Nabi hijrah ke Ethiopia untuk menghindari kemarahan dan amuk massa kaum Quraisy jahiliyah. Mereka antara lain Ruqayyah, anak perempuan Nabi; Utsman bin Affan, suami Ruqayyah; Sa'ad bin Abi Waqqash dan sejumlah sahabat lainnya.
Para sahabat yang hijrah ke Ethiopia itu mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di Kota Axum. Banyak sahabat yang memilih menetap dan tak kembali ke tanah Arab. Konon, mereka inilah yang kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581-618 M).
Sumber lain menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina ketika Saad bin Abi Waqqash dan tiga sahabatnya berlayar ke Cina dari Ethiopia pada 616 M. Setelah sampai di Cina, Saad kembali ke Arab dan 21 tahun kemudian kembali lagi ke Guangzhou membawa Kitab Suci Alquran.
Ada pula yang menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina pada 615 M--kurang lebih 20 tahun setelah Rasulullah SAW tutup usia. Adalah Khalifah Utsman bin Affan yang menugaskan Saad bin Abi Waqqash untuk membawa ajaran Islam ke daratan Cina. Konon, Menurut Ibrahim Tien Ying Ma dalam bukunya,”Muslims in China”, Saad meninggal dunia di Cina pada 635 M. Kuburannya dikenal sebagai Geys' Mazars.

Masjid Pertama di Tiongkok
Utusan Khalifah Utsman itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yong Hui dari Dinasti Tang. Kaisar Yong Hui menghargai ajaran Islam dan menganggap ajaran Islam punya kesamaan dengan ajaran Konfusionisme. Untuk menunjukkan kekagumannya terhadap Islam, kaisar mengizinkan berdirinya masjid pertama di Chang-an (Kanton). Masjid itu bernama Masjid Huaisheng atau Masjid Mercusuar atau  Masjid Memorial. Menurut versi Ibrahim Tien Ying Ma, masjid itu diberi nama Kwang Tah Se, yang berarti menara Cemerlang, dan dibangun oleh Yusuf. Sedangkan, masjid lainnya yang dibangun di sini adalah Chee Lin Se, yang berarti masjid dengan tanduk satu. Kedua masjid itu masih tetap berdiri hingga saat ini setelah 14 abad.
Masjid Huaisheng, adalah sebuah masjid utama di Guangzhou, Berkali-kali dibangun dalam sejarahnya, masjid tersebut menurut tradisi awalnya dibangun pada 1,300 tahun yang lalu, yang membuat masjid tersebut menjadi salah satu masjid tertua di dunia. Masjid tersebut dibangun untuk mengenang nabi Islam Muhammad. Manuskrip-manuskrip Muslim Tionghoa pertama menyatakan bahwa masjid tersebut dibangun pada 627 Masehi oleh Sa`d ibn Abi Waqqas yang merupakan paman Muhammad, dan datang pada misi Muslim pertamanya ke China pada tahun 620an.
Meskipun sarjana-sarjana sekuler modern tidak menemukan catatan sejarah apapun yang mengatakan bahwa Sa`d ibn Abi Waqqas benar-benar pernah ke China, mereka bersepakat bahwa kaum Muslim pertama kali datang ke China pada abad ke-7, dan pada pusat-pusat perdagangan utama, seperti Guangzhou, Quanzhou, dan Yangzhou mungkin terdapat masjid-masjid pertama mereka yang dibangun pada masa Dinasti Tang, meskipun tidak ada catatan yang menyebutkan keberadaan yang sebenarnya dari masjid-masjid tersebut yang ditemukan sejauh ini.
Masjid tersebut dikatakan telah ada pada masa Dinasti Tang, atau pada tahun-tahun awal Dinasti Song. Masjid tersebut dibangun kembali pada 1350 dan kemudian kembali dibangun pada 1695 setelah hancur dalam sebuah kebakaran. Mercusuar atau Minaret Huaisheng telah dibangun pada masa sebelumnya.
 Hasil gambar untuk masjid memorial tiongkok  Gambar terkait
Sudut-sudut Masjid Huaisheng atau Masjid Mercusuar
Hasil gambar untuk masjid memorial tiongkok  Berkas:Huaisheng Mosque Dec 2007.jpg
Sudut-sudut Masjid Huaisheng atau Masjid Mercusuar
Ketika Dinasti Tang berkuasa, Cina tengah mencapai masa keemasan dan menjadi kosmopolitan budaya. Sehingga, dengan mudah ajaran Islam tersebar dan dikenal masyarakat Tiongkok. Masa kejayaan Islam di Cina terjadi pada masa Dinasti Ming (1368-1644 M). Dalam bahasa Cina, Ming berarti gilang-gemilang (Arab: Munawwarah). Dinasti Ming berdiri setelah berhasil menaklukkan Dinasti Yuan yang berkuasa sejak tahun 1279-1368 M. Pimpinan pemberontakan Dinasti Yuan dipimpin oleh Jenderal Kok Tze Hin, seorang panglima Muslim. Kok Tze Hin kemudian menyerahkan pimpinan pasukan revolusi kepada menantunya, Chu Yuan Chang (Emperor Chu). Ia berhasil merebut Kota Nanking beserta wilayah selatan Yang Tze King, dan bagian utara ibu kota Khanbalik, yakni Peking.
Pada dinasti Ming inilah, Islam berkembang sangat pesat di Cina. Umat Muslim pun mendominasi kegiatan ekspor dan impor. Kantor direktur pelayaran secara konstan dipegang oleh Muslim selama periode ini. Pada masa Dinasti Ming, umat Islam secara penuh berintegrasi (berbaur) dengan masyarakat Han. Sebagian di antara mereka mengadopsi nama Muslim. Termasuk, berbusana Muslim dan cara makan ala Islam.
Pada awal permulaan dari Dinasti Ming (1368-1644 M), Islam telah tumbuh di Cina selama 700 tahun. Sebelum masa ini, Muslim mempertahankan perbedaan--sebagai pihak asing di mana menunjukkan budaya, bahasa, dan tradisi yang berbeda dan tidak bisa terintegrasi secara penuh dengan masyarakat Han. Namun di bawah Dinasti Ming, Muslim terintegrasi secara penuh pada masyarakat Han. Di antaranya, perubahan nama yang mulai menggunakan nama Islam kendati dalam bahasa Cina.
Kebanyakan Muslim yang menikahi perempuan Han mengikuti nama istrinya. Lainnya, menggunakan nama marga Cina seperti Mo, Mai, dan Mu yang diadposi para pemilik nama Muhammad, Mustafa, dan Masoud. Yang tidak bisa menemukan nama yang mirip dengan nama aslinya menggunakan nama yang digabungkan seperti Ha untuk Hasan, Hu untuk Husein, dan Sai untuk Said.
Begitu juga dengan nama Islam, orang Cina menyebutnya, Yisilan Jiabao, yang berarti 'agama yang murni'. Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran 'Buddha Ma-hia-wu' (Nabi Muhammad SAW).

Chaoyang Theatre
Setelah selesai melaksanakan sholat di Masjid Niujie, kami menuju Chaoyang Theatre untuk menyaksikan akrobatik show yang sangat terkenal di Beijing. Berbagai pertunjukan akrobat dan ketangkasan selama sekitar satu jam sungguh memukau. Tidak heran kalau atlit-atlit senam china mendominasi pentas olah raga dunia, sepertinya mereka dari kecil sudah terlatih dengan senam dan akrobat. Cukup menghibur, setelah lelah seharian berjalan menapaki beberapa lokasi wisata di Beijing. kebanyakan pemainnya masih berusia muda,kira-kira dari usia belasan tahun sampai usia dua puluhan, mereka berputar, melompat, meliuk, berjungkir balik dan menekuk anggota badannya dengan sangat lentur. Disamping beberapa tarian ada juga beberapa akrobat yang ditampilkan seperti beberapa pengendara motor yang mengendarai sepeda motornya didalam rangka bola raksasa dari besi atau baja, yang  berputar2 secara bersamaan.
    Pertunjukan akrobatik Cina
    Hasil gambar untuk akrobatik show di beijing  Hasil gambar untuk akrobatik show di beijing
                                       Berbagai pertunjukan yang ada di Chaoyang Theatre
Hari sudah cukup gelap ketika kami selesai menyaksikan pertunjukan di Chaoyang Theatre. Perut kami  sudah memberikan isyarat untuk saatnya menuju rumah makan yang menyajikan Peking Roasted Duck atau Beijing Kaoya atau biasa di sebut Bebek Peking, adalah makanan khas Beijing yang wajib dicicipi.  Beberapa orang menganggap makanan ini menjadi salah satu resep paling lezat di dunia dan sebagian besar pengunjung ke ibukota China Beijing (sebelumnya peking), belum lengkap berkunjung ke Beijing kalau belum coba yang satu ini. Hati-hati dengan status halalnya, sebaiknya kita tidak asal masuk rumah makan, tetapi memilih rumah makan yang jelas-jelas diperuntukan untuk muslim. Secangkir teh china yang sangat nikmat menutup acara makan malam saat itu.
Selesai makan malam, kami segera menuju hotel dimana kami menginap, untuk melepas lelah setelah seharian berkeliling-keliling Kota Beijing.
Hari kedua di Beijing, tubuh kami sudah lebih fresh dan lebih bisa beradaptasi dengan lebih baik dengan musim semi di Beijing, agenda hari ini kami akan mengunjungi Jade Museum, Great Wall, Burning cream centre, Beijing National Stadium atau Bird Nest Stadium.


Museum Giok Bona Jade / Jade Museum
Bagi masyarakat China, giok alias jade bukan sekedar perhiasan. Giok adalah kepercayaan yang dipakai untuk mengharapkan kesehatan dan keberuntungan yang berlimpah. Maka tidak heran, giok kerap ditemukan di rumah-rumah atau dipakai sebagai perhiasaan baik itu berupa kalung, gelang, cincin, gantungan atau hiasan. "Giok itu makin lama pemakaiannya, makin mahal harganya. Giok yang baru justru tidak berharga. Pakai dulu baru bisa dijual," kata salah satu staf di Museum Giok Bona Jade, di Changping, Beijing. Di Museum giok Bona Jade yang merupakan milik pemerintah tersebut, sekaligus menjadi salah satu pusat penjualan giok terbesar di China yang menjual ribuan jenis giok.
Memasuki museum seluas 6.000 meter persegi itu, pengunjung langsung disambut beberapa hiasan giok berbentuk ikan mas besar atau Jin Yu, Biksu dan anak naga atau Pi Xi. Giok ikan mas tersebut, biasa diletakkan di bagian depan rumah karena dipercaya membawa hoki mendatangkan kekayaan. Giok berbentuk kepala anak naga atau Pi Xi menjadi simbol yang fungsinya tidak jauh beda dengan Jin Yu, yakni diyakini bisa mengumpulkan uang bagi penghuni rumah dan satu lagi, bisa mencegah rumah dari hantu. "Anak naga itu makannya emas dan perak tetapi tidak dikeluarkan. Selain buat pajangan di rumah, bentuk anak naga bisa juga dibuat untuk hiasan kalung atau gantungan kunci," staf museum tadi lebih lanjut. Ia menambahkan, Pi Xi harus diletakkan dengan posisi kepala menghadap pintu atau jendela atau arah depan rumah. "Semakin besar mulut dan bagian belakang anak naga, maka khasiatnya semakin bagus". Kedua model giok tersebut merupakan jenis giok lembut yang bisa dibentuk menjadi ukiran. Sedangkan jenis giok keras biasanya dibuat untuk perhiasan.  Giok pun tidak melulu berwarna hijau karena ada 32 macam warna giok seperti merah, ungu, kuning, dan cokelat meskipun warna hijau memang dipercaya yang paling bagus. Selain itu, giok keras juga memiliki level kualitas yang berbeda. Staf museum tadi lalu mengangkat tangan kanan dan kirinya yang masing-masing memegang gelang dari batu giok.  Kedua gelang itu sama-sama berwarna hijau. Lalu, mana gelang yang memiliki kualitas giok nomor satu? Ternyata, ada beberapa tips untuk mengenal giok yang memiliki kualitas paling bagus, antara lain diketahui dari nyaring suaranya. "Semakin nyaring, maka kualitasnya makin bagus," ujar staf tadi. Selain itu, giok yang terasa lebih dingin juga dijamin mengandung zat mineral yang lebih besar. Tips lainnya, dilihat dari warna yang semakin gelap, kilap dan tembus cahaya serta dari beratnya, jadi Giok bukan soal ukuran besar atau kecil, Kegemaran masyarakat China terhadap giok tidak lepas dari sejarah karena giok memang bagian dari kebudayaan China.
Pada masa kuno, giok hanya bisa dimiliki orang-orang kaya saja. Sampai sekarang, giok bahkan dinilai lebih berharga ketimbang emas, Orang Cina lebih suka menyimpan giok daripada emas. Oleh sebab itu, harga giok pun tidak murah. Di Bona Jade yang menyediakan giok dari berbagai macam provinsi seperti Yunan, Xinjiang, Liaoning, bahkan Burma itu dijual dengan kisaran 100 yuan hingga 2 juta yuan (1 yuan sekitar Rp2.200). Setelah menyempatkan untuk membeli beberapa perhiasan giok sebagai kenang-kenangan ,selanjutnya kami menuju bus yang mengangkut kami untuk melanjutkan perjalanan kami. Sasaran selanjutnya adalah kami menuju great wall atau tembok china.
   
Beberapa koleksi yang ada di Museum Giok
Great Wall / Tembok Raksasa
Berkunjung ke Beijing tidak lengkap rasanya tanpa singgah di The Great Wall of China. Bangunan yang dibangun selama tiga dinasti ini merupakan tembok raksasa buatan manusia yang terpanjang di dunia, dan termasuk salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Panjang keseluruhan The Great Wall of China adalah 8.851 km. Namun dari tahun ke tahun tembok ini mengalami kerusakan, sebagian besar diakibatkan oleh pembangunan infrastruktur yang serampangan, pencurian artefak dan renovasi bagian-bagian tembok yang dilakukan sembarangan.
The Great Wall of China terbagi ke dalam empat sektor yaitu, Simatai, Bataling, Juyongguan, dan Mutianyu. Saat ini kami berkesempatan untuk singgah di sektor Juyongguan. Local Guide di sana mengatakan bahwa Juyongguan dan Bataling memang adalah sektor yang paling ramai dikunjungi wisatawan, karena di sektor ini kita bisa mendapatkan pemandangan yang paling bagus. Sementara di Simatai meski kita bisa mengunjungi titik tertinggi dari bagian tembok China yaitu pos jaga Wangjinglou dengan ketinggian 986 meter di atas permukaan laut, tapi jalanan menuju ke sana sangat curam dan menantang, memakan waktu sampai 2,5 jam dari kota Beijing.
Tembok Besar Tiongkok atau Tembok Raksasa Tiongkok , juga dikenal di Tiongkok dengan nama Tembok Sepanjang 10.000 Li ( Wànlĭ Chángchéng ) , Menurut catatan sejarah, setelah tembok panjang dibangun oleh Dinasti Ming, barulah dikenal istilah "changcheng" (长城, "tembok besar" atau "tembok panjang"). Sebelumnya istilah tersebut tidak ditemukan. Istilah Tembok Besar Tiongkok dalam Bahasa Mandarin adalah "wanli changcheng", bermakna "tembok yang panjangnya 10 ribu li". Pada masa sekarang istilah ini resmi digunakan.
Tembok Besar Tiongkok tidak panjang terus menerus, tetapi merupakan kumpulan tembok-tembok pendek yang mengikuti bentuk pegunungan Tiongkok utara. Pada tanggal 18 April 2009, setelah investigasi secara akurat oleh pemerintah Republik Rakyat Tiongkok, diumumkan bahwa tembok raksasa yang dikonstruksikan pada periode Dinasti Ming panjangnya adalah 8.851 km.
Pada tahun 2009, Badan Survei dan Pemetaan dan Badan Administrasi Warisan Budaya Republik Rakyat Tiongkok melakukan penelitian untuk menghitung ulang panjang Tembok Besar Tiongkok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tembok Besar Tiongkok lebih panjang daripada rentang yang saat ini diketahui. Menurut pengukuran, panjang keseluruhan tembok mencapai 8.851 km. Proyek tersebut juga telah menemukan bagian-bagian tembok lain yang panjangnya 359 km, parit sepanjang 2232 km, serta pembatas alami seperti perbukitan dan sungai sepanjang 2232 km. Rentang rata-rata Tembok Besar Tiongkok adalah 5000 km, umumnya dikutip dari berbagai catatan sejarah.
Berdasarkan bukti tertulis yang bisa diterima umum, pada dasarnya Tembok Besar Tiongkok dikonstruksikan mayoritas pada periode Dinasti Qin, Dinasti Han dan Dinasti Ming. Namun, sebagian besar rupa tembok raksasa yang berdiri pada saat ini merupakan hasil dari periode Ming. Tembok Besar Tiongkok dianggap sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Pada tahun 1987, bangunan ini dimasukkan dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.
  Hasil gambar untuk great wall
 
Sudut-Sudut Tembok Raksasa

Tembok Raksasa pada periode Dinasti Qin
Sebelum periode Dinasti Qin, pembangunan tembok raksasa paling awal dilakukan pada Zaman Musim Semi dan Gugur (722 SM-481 SM) dan Zaman Negara Perang (453 SM- 221 SM) untuk menahan serangan musuh dan suku-suku dari utara Tiongkok. Negeri-negeri yang tercatat berkontribusi dalam konstruksi pertama antara lain negeri Chu, Qi, Yan, Wei dan Zhao. Dalam periode-periode berikutnya, tembok raksasa bertambah panjang, diperbaiki dan dimodifikasi.
Pada tahun 220 SM di bawah perintah Kaisar Qin Shi Huang, Jendral Meng Tian mengumpulkan tenaga kerja sebanyak 300 ribu orang untuk menyambungkan tembok-tembok sebelumnya sebagai garis pertahanan. Pembangunan yang memakan waktu 9 tahun memerlukan biaya mahal dan mengorbankan rakyat jelata. Tenaga kerja yang jadi korban mencapai jutaan jiwa sehingga negara menjadi lemah. Kebencian rakyat pada kerja paksa tersebut memicu kemarahan petani yang berontak menggulingkan Dinasti Qin. Setelah itu, pembangunan tembok raksasa tidak dilanjutkan.
 Peta Tembok Raksasa pada periode Dinasti Qin
Tembok Raksasa pada periode Dinasti Han
Tahun 127 SM, saat Kaisar Han Wudi berkuasa (140 SM-87 SM), proyek renovasi dan pembangunan bagian-bagian tembok lama dilaksanakan selama 20 tahun menambah panjang tembok secara keseluruhan menjadi 1000 km. Pada periode pertama Han, tembok raksasa berfungsi sebagai pelindung kawasan barat dari Bangsa Hun yang mengancam rakyat Tiongkok. Setelah pengaruh Hun melemah, pembangunan tembok tidak dilanjutkan. Mulai tahun 39 M, atas perintah Guang Wudi, jendral Ma Cheng memulai kembali proyek pembangunan tembok besar. Pada saat itu, bangsa Hun terpecah menjadi 2 bagian, utara dan selatan. Bangsa Hun utara berhasil ditundukkan oleh Han sementara bagian selatan berdamai. Setelah itu, pembangunan tembok raksasa ditinggalkan karena Tiongkok sudah mempunyai kekuatan militer yang besar.
 Peta Tembok Raksasa pada periode Dinasti Han
Tembok Raksasa pada periode Dinasti Ming
Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), setelah menaklukkan bangsa Mongol, tembok raksasa dari periode sebelumnya dikonstruksikan kembali, dengan catatan panjang 5.650 km. Pada masa ini, Tembok Besar Tiongkok dibagi ke dalam 9 distrik militer yang dilengkapi benteng-benteng pertahanan dan pintu gerbang untuk mengawasi daerah perbatasan. Di atasnya dibuat jalan sebagai jalur transportasi. Pintu gerbang paling timur dinamakan Shanhaiguan dan pintu gerbang paling barat dinamakan Jiayuguan.
 Peta Tembok Raksasa pada periode Dinasti Ming

Menara Suar Pada Tembok Raksasa

Menara suar atau fenghuotai digunakan untuk menyampaikan pesan militer dengan cara membuat sinyal asap pada siang hari dan api pada malam hari untuk memberitahukan adanya gerak-gerik musuh. Merupakan salah satu bagian tembok besar terpenting, struktur ini dibuat di tiap bagian tembok raksasa dengan material local. Di daerah pegunungan, tersusun dari batu bata, di padang rumput atau gurun terbuat dari tanah liat. Bentuk bisa bulat, lonjong dan persegi. Terdapat 3 jenis menara suar, yakni tipe yang dibangun di atas tembok, dalam tembok atau dibangun terpisah untuk mengintai musuh.
                                  Hasil gambar untuk tembok raksasa cina
                                                                          Menara suar di tembok Mutianyu

Pintu Gerbang (Celah) Pada Tembok Raksasa
Struktur pintu gerbang berfungsi sebagai benteng pada posisi-posisi penting, Tersusun dari:
  1. Chengqiang atau tembok pertahanan, dengan tinggi maksimal 10 meter. Bagian luar terbuat dari batu bata besar atau batu granit. Bagian dalam terbuat dari tanah kuning atau campuran batu-batu kerikil.  Di atas tembok dapat dilalui penunggang kuda. Di sisi tembok terdapat tembok pelindung berbentuk persegi sebagai tempat untuk mengawasi dan berlindung.
  2. Chenglou atau menara gerbang: pintu untuk keluar masuk perbatasan, sebagai tempat keluarnya pasukan saat menyerang musuh. Gerbang dinamakan sesuai dengan nama celah.
  3. Wangcheng: tembok kecil di luar tembok besar yang berfungsi sebagai pelindung pintu gerbang.
  4. Luocheng: tembok kedua untuk melindungi wengcheng
  5. Parit dan saluran air dalam untuk memperlambat gerakan musuh, memberi kesempatan untuk menyerang dengan cepat.
                                          
                                               Gerbang Shanhaiguan               Gerbang Joyungguan

Tembok

Tembok merupakan badan utama arsitektur tembok raksasa. Fungsinya menghubungkan menara suar, menara pengintai dan pintu gerbang menjadi sebuah garis pertahanan. Ketinggiannya tergantung pada bentuk dataran.  Pada daerah-daerah strategis dibuat lebih tinggi. Pada saat melintasi gunung atau daerah dengan bentuk tidak rata dibuat serendah mungkin untuk menghemat bahan dan tenaga. Rata-rata tinggi tembok 23-26 kaki.
Bagian-bagian penting di tembok:
  • nuqiang (女牆), tembok pelindung di sisi atas struktur tembok. Dibangun untuk melindungi tentara dan kuda di atas tembok. Jika tembok raksasa melintasi sisi gunung curam, hanya dibangun satu buah nuqiang untuk menghemat bahan.
  • duokou () tembok bercelah untuk mengintai. Doukou ini masih dilapisi oleh lapisan tembok lagi sebagai pelindung. jalur kuda:jalan setapak di sebelah menara pengintai yang bisa dilewati penunggang kuda untuk mencapai bagian atas tembok
  • quanmen: pintu melengkung di bagian dalam tembok sebagai jalan masuk ke atas tembok.
    
            Tembok Badaling                       Tembok Jiayuguan                 Tembok antara Simatai dan Jinshanling

Material Tembok Raksasa

Material yang digunakan untuk membuat tembok raksasa beda-beda sesuai periode dinasti. Sebelum batu bata ditemukan, tembok besar dibuat dari tanah, batu dan kayu. Karena pembangunannya selalu membutuhkan sumber daya yang banyak, para pekerja memanfaatkan bahan-bahan yang seadanya. Saat melewati gunung, batu gunung akan digunakan. Pada saat membangun di tanah datar, tembok dibuat dari tanah yang digemburkan dan jika melewati padang gurun, bahan yang digunakan adalah rerumputan campur pasir dan ranting-ranting pohon konifer. Tembok dari bahan ini rapuh, mudah ditembus dan cepat hancur.
Pada masa Dinasti Qin, teknologi belum maju, sehingga material yang digunakan adalah tanah atau tanah campur kerikil. Pada masa itu struktur benteng belum didirikan. Beberapa bagian tembok hanya terdiri dari gundukan batu-batu besar.
Pada masa Dinasti Han, bahan tanah dan batu seperti masa sebelumnya masih umum digunakan.
Pada masa Dinasti Tang, batu bata sudah diproduksi. Namun, karena mahal, hanya terbatas pada gerbang kota dan tembok yang dekat.
Baru pada zaman Dinasti Ming, teknologi pembangunan tembok sudah lebih maju. Namun, baru pada pertengahan periode dinasti tersebut batu bata berkualitas diproduksi. Batu bata lebih baik daripada tanah atau batu kerikil karena lebih ringan, tahan beban dan lebih efektif dalam waktu yang cepat. Batu masih dipakai, terutama untuk fondasi, pinggiran luar dan dalam gerbang dikarenakan lebih kuat daripada batu bata. Adukan batu kapur dengan beras ketan efektif sebagai semen yang dapat merekatkan batu bata.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               
Bird Nest Stadium
Beijing National Stadium atau yang lebih dikenal dengan nama Bird Nest Stadium adalah salah satu ikon Olimpiade 2008. Kemegahan dan kerumitan arsitekturnya menjadi keunikan tersendiri yang membuat stadion ini sangat khas dibanding stadion-stadion lain didunia.
Stadion yang lebih dikenal sebagai 'sarang burung' terbesar di dunia ini , memiliki luas  333 x 294 meter persegi ini memang terlihat menawan saat bus yang membawa kami dan rombongan memasuki area Olympic Green, yang menjadi pusat penyelenggaraan Olimpiade Beijing pada 2008 lalu. Desain luarnya memang sungguh tak biasa, tampak tak beraturan, namun sangat  menawan. Kulit luar stadion berkapasitas 80 ribu penonton ini didesain mirip seperti sarang burung. Desain ini diambil dari salah satu bagian ilmu keramik Tiongkok. Seorang seniman ternama Tiongkok, Ai Weiwei, menjadi konsultan untuk desain stadion.
Bagian yang mirip sarang burung itu dibuat dari material baja. Selain sisi artistik, bagian itu memiliki fungsi melindungi bagian atap stadion yang bisa dibuka tutup.
Masuk ke bagian dalam stadion, pengunjung akan dibuat terpikat desain langit-langit ruangan yang ada di stadion itu. Sama seperti bagian luar, desain langit-langitnya pun tak dibuat sederhana, lagi-lagi ketidaberaturan yang menawan.
Bagian stadion yang dimasuki dari pintu barat disebut Gold Hall. Hal ini dikarenakan dinding yang berada disisi jalan sesaat akan menuju eskalator itu berwarna emas. Membuat pengunjung merasa sedang memasuki bangunan yang benar-benar mewah. Sesampainya di ujung elevator, terdapat ruang tunggu dan pertemuan VIP. Terdapat lukisan berbagai olahraga tradisional China di dinding ruang tunggu. Ada juga ornamen berbentuk burung di bagian pintu dan dinding yang makin menegaskan bahwa tempat itu layak dijuluki sarang burung. Stadion yang pembangunannya menghabiskan dana US$ 428 juta ini memang jelas terlihat kemegahannya.
      
Bird Nest Stadium saat malam hari
           
Bird Nest Stadium saat sore hari

Water Cube - Beijing National Aquatics Center

Selain daripada Bird Nest, bangunan menarik yang terletak di hadapan Stadium sarang burung ini adalah Water Cube. Water Cube adalah bangunan kotak berwarna biru dengan pola gelembung air irregular dengan luas lantai 70 ribu meter persegi , kapasitas lima kolam dan 17 ribu penonton yang menjadi tempat penyelenggaraan pertandingan berenang , loncat indah , renang indah , diving dan polo air pada even Olimpiade Beijing 2008 yang silam
Frame kotak pada Water Cube disusun oleh pipa baja yang terhubung dalam 12 ribu titik beban, dibungkus dengan lapisan membran seluas 100 ribu meter persegi membentuk keindahan bangunan dan efisiensi energi.  Sang arsitek mengklaim bahwa panel permukaan akan menghemat energi sebesar 30% untuk penyediaan  cahaya dan dan menjaga temperatur tetap terjaga.
Temperatur untuk kolam renang pertandingan dikontrol dengan menggunakan energi matahari dan air yang mengisi kolam melalui prosedur penyaringan ganda.  Struktur geometri pada permukaan bangunan berbentuk gelembung air yang melambangkan kebahagiaan dan ketenangan. Gelembung-gelembung terhubung satu sama lain membentuk kluster sirkular  yang melambangkan langit . Bentuk kotak secara keseluruhan melambangkan bumi. Pasangan "Water Cube" yang berbentuk kotak dan "Bird Nest" yang sirkular juga melambangkan kosmologi dalam budaya Tionghua.
               
Water Cube saat malam hari
Udara musim semi dipagi hari terasa sangat dingin ketika kami bangun dari tidur di hari ketiga kami dibeijing. Agenda hari ini kami akan mengunjungi beberapa tempat wisata lain yang ada di Beijing, seperti : summer palace, Beijing zoo/panda palace,wangfujing shopping street, xiu shui market.

The Summer Palace
The Summer Palace atau Yihe Yuan atau dalam Bahasa Indonesia menjadi Istana Musim Panas adalah istana yang terletak di Barat Laut Distrik Haidian, Beijing, berjarak sekitar 15 km (9,3 mil ) dari pusat kota Beijing. Summer Palace meupakan taman terindah di Tiongkok yang terkenal akan pemandangan alamnya dan sejarah budayanya sehingga The Summer Palace dijuluki sebagai “The Museum of Royal Garden”.
The Summer Palace mulai dibangun pada tahun 1750 pada zaman Dinasti Jin, dan digunakan sebagai area hiburan serta taman kerajaan yang mewah untuk para anggota keluarga kerajaan. Pada awal pembuatan mempunyai nama Taman Qingyi. Namun pada masa – masa akhir pemerintahan Dinasti Qing, taman ini berubah kegunaanya menjadi tempat permukiman para keluarga raja. Menurut catatan sejarah, The Summer Palace ini juga merupakan tempat peristirahatan terakhir Ibu Suri Cixi.
The Summer Palace memiliki luas sekitar 300 hektar, yang mencakup lebih dari 3.000 bangunan. Area bangunan lebih dari 70.000 meter persegi, termasuk pavilliun, menara, jembatan, dan koridor. Bangunan ini merupakan gabungan dari gedung-gedung yang disatukan secara serasi, merefleksikan hubungan harmonis antara manusia dan alam sekitarnya. Tiga perempat bagian dari Summer Palace adalah air yang terbentuk sebagai Danau Kunming.

Front-Hill Area

Front-Hill Area merupakan wilayah dari kompleks Summer Palace yang mempunyai bangunan terbanyak, dimana bangunan-bangunan di tempat ini didesain secara simetris antara bagian barat dengan bagian timur dilengkapi dengan taman yang indah dengan pusatnya adalah Tower of Buddhist Incese. Tower ini mempunyai desain ala China klasik dengan bentuk oktagonal. Bangunan dengan desain yang cukup megah dengan ketinggian 41 meter menjadi proyek pembangunan yang terbesar pada masa itu,dan menghabiskan dana sebesar 780 ribu tael perak.
Hasil gambar untuk summer palace beijing Hasil gambar untuk summer palace beijing

Air danau Kunming membeku pada saat musim dingin

 

 

 

 

Lake Area

Wilayah ini mencakup area yang luas dengan total jembatan yang ada sekitar 30 jembatan di kompleks istana ini. Di sini terdapat Seventeen-Arch Bridge yang merupakan jembatan terbesar di Summer Palace dengan panjang 150 meter dan lebar 8 meter. Jembatan ini menghubungkan antara Danau Kunming bagian barat dengan Pulau Nanhu yang ada di sebelah timur.
Hasil gambar untuk summer palace beijing 
Jembatan yang ada di Danau Kunming
Taman yang indah ini pernah hancur pada saat serangan Pasukan Sekutu Anglo-Perancis kemudian dikembalikan ke fondasi awal pada tahun 1886 setelah sebagian besar hancur karena perang pada tahun 1860.  Namanya kemudian diubah menjadi Yuan Ming Yuan dan terakhir menjadi Yihe Yuan oleh Ibusuri Cixi pada tahun 1881. Perubahan terakhir disertai renovasi besar-besaran. Setelah renovasi itu, Ibusuri Cixi kemudian tinggal disana. 
Menurut catatan sejarah, nama The Summer Palace ini bukanlah nama sebenarnya, nama aslinya ialah Qingyi Garden yang menggabungkan kekayaan dan keindahan alam seperti bukit dan perairan dengan bangunan buatan manusia seperti paviliun,balai, kuil, istana dan jembatan. Nama tersebut diganti setelah rekonstruksi pertama pada tahun 1888. Pada tahun 1924, taman ini dibuka secara umum, dan pada tahun 1998 Summer Palace ditetapkan oleh UNESCO sebagai situs warisan dunia dan mendapatkan peringkat sebagai tempat wisata terbaik di Tiongkok.

  

        Sudut-Sudut Summer Palace

 

 

 

Beijing Zoo/Panda House

Tak lengkap rasanya kalau ke Beijing tidak menengok hewah khas dari Cina yang berwarna hitam dan putih. Apalagi kalau bukan panda. Hewan yang satu ini merupakan hewan yang hidup di daerah pegunungan di Cina. Makanan hewan ini adalah rebung atau pohon bambu yang masih muda. Anda dapat menemukan hewan ini di Panda House yang ada didalam Kebun Binatang Beijing (Beijing Zoo). Kebun binatang ini terletak di Distrik Xicheng, tidak jauh dari Istana Terlarang. Kebun binatang ini berdiri di atas tanah seluas 200 hektar. Beijing Zoo, seperti kebun binatang pada umumnya, memilki koleksi binatang yang variatif. Tapi yang jadi primadona adalah Panda House, tempat binatang khas China berada. Jika ingin melihat panda beraktivitas harus datang pagi hari saat mereka makan karena setelah makan mereka lebih banyak tidur.
Hasil gambar untuk kebun binatang panda di beijing Hasil gambar untuk kebun binatang panda di beijing Hasil gambar untuk kebun binatang panda di beijing
       Panda di Kebun Binatang Beijing
Wangfujing Shopping Street
Pada sore harinya kami menyempatkan jalan-jalan ke kawasan perbelanjaan ‘ Wangfujing Shopping Street ‘, Letaknya di tengah kota, berdekatan dengan Forbidden City dan Tiananmen Square sekitar 2,5 km. Dikawasan perbelanjaan yang cukup ramai ini kita bisa memperoleh banyak barang-barang souvenir atau sekedar untuk kenang-kenangan, kita harus berani untuk melakukan tawar menawar, karena harga yang ditawarkan penjual biasanya belum pasti, dan kalau kita beruntung kita bisa menawar sampai setengahnya atau bahkan lebih dari itu.
Belanja memang melekat dengan Wangfujing, Selama berabad-abad, Jalan Wangfujing yang sebenarnya adalah jalanan sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer yang cukup lebar, menyuguhkan berbagai aktivitas perniagaan di Beijing. Saat ini, tempat ini sangat populer di kalangan pembelanja dan wisatawan yang berduyun-duyun datang untuk mencari pakaian murah dan unik. Salah satu jalanan di Beijing ini boleh dibilang adalah tempat belanja favorit, gak hanya untuk turis asing dan domestik, tapi juga warga Beijing sendiri. Ada banyak bangku, bar, restoran, dan kafe di jalan raya komersial yang sibuk ini, semuanya menawarkan banyak pilihan beristirahat. Umumnya para pengunjung akan berjalan-jalan menyusuri jalanan tersebut. Di kiri-kanannya, ada deretan toko mulai dari yang menjual pakaian, pernak-pernik, barang elektronik, tekstil, mainan sampai makanan dan minuman. Dari mulai toko modern bermerk sampai toko kelontong tradisional lengkap ada di sini. Wangfujing lebih ramai lagi mulai sore hingga tengah malam, Gemerlapnya lampu dan banyaknya lalu lalang orang melintasi jalan ini di malam hari, bikin pemandangan di kawasan ini meriah. Asyiknya, kita bisa jalan santai di Wangfujing. Gak khawatir ditabrak kendaraan. Soalnya kawasan ini memang sengaja tertutup buat kendaraan bermotor.
      
                                                                                     Jalan Wangfujing

Penulis :

Nama                                    : Abu Raihan alias Yoyon Indrayana
Tempat tanggal lahir             : Malang, 22 juli 1966
Alamat                                  : Perumahan Graha pitaloka C-11, Jl. Sekar Kemuning
                                                RT.002/RW.013, Kel.Karyamulya, Kec.Kesambi,Kota Cirebon
Npmpr HP                             : 0812 8402 4994