Selasa, 18 Agustus 2020

Koridor Karangwangi Sebagai ‘Main Street’ Kota Cirebon

 

Koridor Karangwangi Sebagai ‘Main Street’ Kota Cirebon

Penulis:

Yoyon Indrayana1

 

Abstraksi

Koridor karangwangi adalah salah satu jalan protokol di kota cirebon, yang merupakan gabungan dari 2(dua) ruas jalan , yaitu jalan karanggetas dan jalan siliwangi. Koridor karangwangi memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan peran yang sangat penting bagi kota cirebon. Melihat sejarah yang dimiliki pada Koridor Karangwangi, ini dapat mejadi potensi yang sangat menarik untuk pengembangan ‘Main Street’ pada koridor jalan dimaksud. Adanya folklore atau mitos pada koridor karangwangi menjadikan koridor karangwangi ini selalu berada dalam benak sebagian besar warga kota Cirebon khususnya. Koridor karangwangi merupakan koridor utama yang bisa memberikan kesan pertama bagi pengguna jalan atau pendatang dari luar kota saat memasuki kota cirebon. Dengan demikian koridor ini semestinya menjadi ‘landmark’ yang memberikan informasi dan kesan yang baik tentang kota cirebon. Dengan kata lain koridor ini berpeluang untuk menjadi ‘Main Street’, simbol atau identitas bagi kota Cirebon. Menurut Jacobs(1993), Beberapa kota memiliki jalan yang bermakna dan menimbulkan persepsi kuat bagi pengguna. Jalan tersebut dianggap memiliki kenangan (image) dan suasana yang lebih menarik atau lebih menyenangkan dari pada jalan-jalan yang lain, sehingga orang selalu mengingatnya dan ingin kembali ke jalan yang sama ketika berada di kota tersebut. Pada era globalisasi seperti saat ini, adanya main street sebagai identitas kota atau citra kota dapat berfungsi sebagai penambah daya tarik wisata bagi kota. Main street menjadi sesuatu yang penting untuk memperkuat identitas dan wajah kota sehingga membuat kota tersebut menarik dan memiliki daya tarik bagi wisatawan.

Kata kunci :

koridor karangwangi, landmark, main street, identitas kota, wisata perkotaan

 

A.    Pendahuluan

Kota Cirebon adalah salah satu kota yang berada diperbatasan antara propinsi  jawa barat dan propinsi jawa tengah yang cukup ramai. Posisinya yang sangat strategis, berada diperlintasan lalu-lintas yang menghubungkan kedua propinsi di pulau jawa itu menjadikan kota cirebon sangat sibuk dengan aktifitas yang tidak saja dilakukan oleh warga kota cirebon, tetapi juga warga disekitar kawasan hinterland kota cirebon. Kota cirebon memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan kota-kota lain disekitarnya. Sehingga jumlah penduduk kota yang sebenarnya hanya kurang lebih 350.000 jiwa, tapi pada saat siang hari bisa mencapai 3(tiga) kali lipatnya.

Kota Cirebon yang didirikan pada tanggal 1 muharram 791 H, telah mengalami periode perkembangan sejarah yang cukup panjang. Didalam periode tersebut banyak sekali nilai-nilai maupun peristiwa sejarah yang berlangsung sehingga membentuk karakteristik kota yang ada saat ini. Walaupun begitu sisa-sisa peninggalan masa lampau berupa karya arsitektur, kekayaan seni, tradisi dan budaya tetap bertahan seiring dengan perkembangan jaman sebagai Living Monument. Hal tersebut menjadikan kota cirebon sangat layak untuk disebut sebagai Kota Wisata Budaya atau Kota Pusaka Nasional, bahkan mungkin bisa sebagai Kota Pusaka Dunia (World Heritage City). Dengan banyaknya warisan budaya dari berbagai periode sejarah yang dimiliki maka tidaklah diragukan lagi bahwa keunggulan nilai warisan budaya di kota Cirebon memiliki nilai yang sangat tinggi dan harus dilestarikan dan dipelihara sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya bangsa.

Koridor karangwangi yang merupakan gabungan dari 2(dua) ruas jalan , yaitu jalan karanggetas dan jalan siliwangi, memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan peran yang sangat penting bagi kota cirebon. Koridor karangwangi juga berfungsi sebagai jalan protokol kota cirebon, jalan karanggetas dengan fungsi utama kawasan perdagangan, sedangkan jalan siliwangi dengan fungsi utama jasa dan perkantoran. Jalan karanggetas dikenal sejak jaman Pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati memimpin Kerajaan Islam Cirebon pada awal abad ke 15 M, Sedangkan jalan siliwangi dikenal sejak pemerintah kolonial masuk ke cirebon dan mendirikan gedung perkantoran di jalan siliwangi pada awal abad ke 19 M. Sehingga bisa dikatakan keberadaan koridor karangwangi menjadi orientasi dan sangat mempengaruhi perkembangan morfologi kota cirebon sampai saat ini.

Jacobs (1993) menyebutkan bahwa main street adalah jalan yang dapat menjadi representasi identitas kota, dimana karakteristik main street antara lain adalah mudah diingat (imageable) dan bisa menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk pejalan kaki, atau dengan kata lain memiliki sense of place. Sementara teori-teori mengenai sense of place menyatakan bahwa kesan suatu tempat dibentuk oleh tiga komponen utama, yaitu karakter fisik, aktivitas dan makna, meskipun ketiga komponen tersebut tidak selalu sama kuat intensitasnya sebagai pembentuk sense of place (Garnham, 1985; Relph, 1976; Carmona dkk, 2003). Oleh karena itu imageability, keunikan (distinctiveness), dan sense of place menjadi komponen yang penting dalam pembentukan identitas suatu main street.

B.     Metode Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen peninggalan budaya yang ada di kota Cirebon baik yang tangible maupun intangible, serta makna atau arti yang terkandung didalamnya dan memberikan wawasan bagi para pemangku kepentingan untuk dapat mengembangkan segala potensi yang ada agar dapat didaya gunakan dalam pembuatan kebijakan pengembangan wisata budaya perkotaan secara maksimal.  Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan wawancara etnografi, diskusi kelompok fokus dan wawancara langsung. Dalam metode kualitatif ini tidak menekankan kepada generalisasi (transferability), tetapi lebih menekankan pada makna.  Metode kualitatif ini menggunakan penelitian deskriptif, dimana penelitian ini hanya menggambarkan dan menganalisis sesuatu yang sebenarnya mengenai suatu variabel, dan tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, dan tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diteliti.

 

C.    Pembahasan

1.      Nilai Sejarah Koridor Karangwangi Sebagai Pembentuk Imageability

Koridor  Karangwangi  yang merupakan gabungan dua buah ruas jalan, yaitu Jl.Karanggetas dan Jl.Siliwangi, memiliki sejarah yang cukup penting dalam pembentukan morfologi kota Cirebon. Dalam perkembangan morfologi kotanya, koridor karangwangi ini selalu menjadi orientasi bagi pertumbuhan kota. Pembangunan jalan yang dilakukan pada masa pemerintahan Syarif Hidayatullah ( 1479 M), menghubungkan keraton pakungwati di dukuh lemahwungkuk menuju dukuh pesambangan (astana gunung jati), sepanjang kurang lebih 5 kilometer agar dapat dilalui kuda dan pedati. Hal ini memang bisa dipahami karena pada kedua titik tujuan itulah semua orientasi aktifitas masyarakat pada saat itu terjadi bahkan hingga sampai saat ini. Dukuh Pesambangan sebagai tempat awal penyebaran agama islam di Cirebon dan Dukuh Lemahwungkuk sebagai pusat pemerintahan dan keraton. Koridor Karangwangi sangat berarti bagi pembentukan Kota Cirebon saat itu. Dari kedua pedukuhan itulah pergerakan hilir mudik orang cirebon pada saat itu terjadi, tidak saja urusan penyebaran agama islam atau urusan pemerintahan dengan keraton tetapi juga aktifitas perdagangan dan aktifitas sosial masyarakat lainnya. Koridor Karangwangi berkembang sebagai ruas jalan yang padat dan sibuk serta berpengaruh pada perkembangan morfologi Kota Cirebon selanjutnya. Koridor Karangwangi (Karanggetas-Siliwangi) memang cukup fenomenal untuk masyarakat Kota Cirebon, di sepanjang koridor jalan itu tersisa warisan bangunan (heritage) dari berbagai masa pemerintahan yang masih utuh sampai saat ini dan dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya baru bagi kota cirebon.

Melihat sejarah yang dimiliki pada Koridor Karangwangi, ini dapat mejadi potensi yang sangat menarik untuk pembentukan imageability koridor jalan dimaksud. Menurut Jacobs(1993),Beberapa kota memiliki jalan yang bermakna dan menimbulkan persepsi kuat bagi pengguna. Jalan tersebut dianggap memiliki kenangan (image) dan suasana yang lebih menarik atau lebih menyenangkan dari pada jalan- jalan yang lain, sehingga orang selalu mengingatnya dan ingin kembali ke jalan yang sama ketika berada di kota tersebut. Karakter sebuah jalan sebagai ruang kota akan mempengaruhi persepsi pengguna jalan terhadap image atau citra kota secara keseluruhan, yang pada akhirnya menjadi rujukan bagi identitas kota yang bersangkutan. Oleh karena itu perubahan karakter suatu koridor jalan pada suatu kota akan mempengaruhi pembentukan persepsi masyarakat terhadap identitas kota itu. Perubahan karakter suatu kota saat ini terjadi di berbagai kota di dunia sebagai akibat dari globalisasi dan tekanan pertumbuhan ekonomi, yang seringkali berdampak pada hilangnya karakter lokal dan menghasilkan wajah kota yang dimana-mana sama atau seragam.

Identitas kota berkembang sepanjang waktu, dipengaruhi oleh perubahan dan berbagai faktor pembentuknya, dan menjadi komponen yang berharga bagi keberlanjutan kota (Scheffler, 2009; Okesli, 2012). Oleh karena itu, menciptakan suatu tempat yang memiliki identitas sebagai pendukung keberlanjutan merupakan salah satu tujuan perancangan untuk menciptakan kota yang baik (Carmona, 2007). Pembentukan identitas kota melibatkan persepsi masyarakat terhadap lingkungan kota berdasarkan pengalaman sehari-hari (Relph, 1976; Rose, 1995), dimana dalam proses mengalami kota, karakter streetscape merupakan sumber informasi visual langsung dan terdekat bagi pembentukan image dan persepsi terhadap lingkungan kota serta identitas kota secara lebih luas.

2.      Keunikan (Distinctiveness) Karakter Koridor Karangwangi

Kevin Lynch (1981) menyatakan bahwa kemampuan untuk mengenali keunikan dipengaruhi oleh keterbacaan atau legibility lingkungan tersebut. Selain legibility, penilaian keunikan karakter koridor karangwangi  di Kota Cirebon juga di pengaruhi oleh aksesibilitas dan elemen-elemen yang membentuk karakter streetscape-nya. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa koridor-koridor jalan yang menurut penilaian masyarakat memiliki nilai keunikan paling tinggi, juga merupakan koridor dengan penilaian imageability, familiaritas, legibility, serta nilai kualitas dan kenyamanan yang paling tinggi. Koridor karangwangi yang merupakan gabungan dua ruas jalan, yaitu ; jalan karanggetas dan jalan siliwangi memiliki banyak elemen pembentuk keunikan. Jalan karanggetas yang pada awal abad 15 M merupakan kawasan yang sangat strategis sebagai pintu masuk ke karaton Cirebon, sehingga banyak pendatang seperti dari etnis tionghoa, etnis arab dan pribumi sendiri yang bermukim disana. Sehingga kemudian kawasan tersebut berkembang sebagai kawasan usaha yang menguntungkan. Sejak awal abad ke 20 M kawasan karanggetas berkembang sebagai kawasan strategis kota Cirebon. Jalan Karanggetas saat itu berkembang sebagai pusat pertokoan emas, tercatat pada awal abad ke-20 itu ada sebelas toko emas yang semuanya itu dimiliki oleh orang Tionghoa yang sampai saat ini masih bisa ditemukan. Sehingga jalan karanggetas sangat mudah dikenali (legibility) tidak saja oleh penduduk kota yang sudah sering melewati(familiaritas), tetapi juga oleh para pendatang. Pada kawasan sekitar jalan karanggetas, berkembang juga perkampungan etnis arab yang mengembangkan usaha penjualan buku-buku keagamaan, minyak wangi, dan usaha lainnya, sehingga kawasan karanggetas menjadi kawasan perekonomian utama bagi kota cirebon.

Sementara kawasan jalan siliwangi saat ini berkembang sebagai kawasan perkantoran utama di kota Cirebon dan juga aktifitas pendukung kota lainnya. Banyak bangunan-bangunan yang merupakan cagar budaya (heritage) yang bergaya kolonial, peninggalan pemerintah belanda sejak awal abad ke 19 M yang masih berdiri dengan kokoh dan menarik banyak pengunjung. Pemerintah Belanda membangun beberapa bangunan yang berfungsi perkantoran di sepanjang Jalan Siliwangi, seperti Gedung Karisedanan (Gedung Negara) dan kantor Balaikota (Staadhuis). Pembangunan Gedung Karesidenan Cirebon (Gedung Negara) dibangun pada tahun 1865 M ketika Karesidenan Cirebon dipimpin oleh Albert Wilhelm Kinder De Camurecq. Sementara Balaikota Cirebon dibangun pada tahun 1924 M, merupakan pengejawantahan peningkatan kepentingan Pemerintah Belanda terhadap kota pelabuhan cirebon saat itu, yang pada awal abad ke-20 telah menempati ranking ke-4 terbesar di Jawa. Pada masa Pemerintahan Militer Jepang hingga masa kemerdekaan gedung ini menjadi pusat Pemerintahan Kota Cirebon. Selain itu di jalan siliwangi juga banyak dijumpai bangunan-bangunan cagar budaya lain yang memiliki arsitektur yang sangat tinggi dan saat ini dinyatakan sebagai bangunan cagar budaya (heritage). Seperti halnya jalan karanggetas, jalan siliwangi juga sangat familiar bagi warga kota cirebon, sehingga hampir seluruh jalur angkutan umum perkotaan yang ada akan melewati jalan siliwangi dan sangat mudah mngenali (legibility) karakternya melalui tampilan (fasade) bangunan-bangunan heritage tadi. Dengan ruas jalan yang cukup luas dan tampilan karakter bangunan disekitarnya, jalan siliwangi merupakan jalan yang memiliki kualitas dan kenyamanan yang sangat tinggi bagi warga kota cirebon. Sehingga hampir setiap perayaan apapun, seperti karnaval atau pawai yang memiliki skala kota atau nasional selalu dilakukan pada ruas jalan ini.

3.      Pembentukan sense of place koridor karangwangi

Sense of place didefiniskan sebagai ikatan antara tempat dengan manusia dimana tempat tersebut dapat memberikan rasa atau kesan tersendiri bagi mereka, baik rasa nyaman, aman, asing dan sebagainya. Sense of place dapat terjadi dimana saja, seperti ruang publik, rumah, taman, dan sebagainya. Sense of place dapat terjadi pada ruang publik karena pada ruang publik tidak terdapat batasan ruang sehingga manusia dapat secara bebas mengalami sense of place. Selain itu, manusia juga dapat berinteraksi satu sama lain sehingga memiliki sebuah memori dan pengalaman baru dan meninggalkan suatu kesan tersendiri bagi manusia ,yang menyebabkan terjadinya sense of place pada ruang publik tersebut. Jadi Sense of place adalah suatu proses persepsi lingkungan yang melibatkan pengenalan ciri-ciri suatu tempat dan pembedaan antara satu tempat dengan tempat lainnya yang menghasilkan image mengenai tempat tersebut. Oleh karena itu pembahasan mengenai pembentukan sense of place dilakukan berdasarkan analisis imageability dan keunikan (distinctiveness) karakter koridor karangwangi kota Cirebon. Dari analisis karakter ke dua ruas jalan pada koridor karangwangi, yaitu jalan karanggetas dan jalan siliwangi menunjukkan bahwa sense of place masing-masing ruas jalan dipengaruhi oleh tidak saja komponen karakter fisik tetapi juga dari pada karakter aktivitas dan makna setiap ruas jalan dengan intensitas yang berbeda.

Berdasarkan analisis elemen-elemen pembentuk imageability dan keunikan (distinctiveness) pada jalan karanggetas dan jalan siliwangi, terlihat bahwa elemen-elemen pembentuk sense of place pada koridor karangwangi adalah sebagai berikut:

Jalan Karanggetas,

Merupakan koridor dengan signifikansi sejarah yang cukup kuat sebagai pintu masuk kawasan keraton Cirebon pada awal abad ke 15 M, hingga saat ini berkembang sebagai kawasan strategis ekonomi bagi kota Cirebon, dimana masih terlihat pada karakter fisik yang cukup unik sebagai kawasan pertokoan emas yang menimbulkan imagebility bagi warga kota Cirebon. Banyak cerita rakyat (folklore) atau mitos yang menceritakan tentang jalan karanggetas, asal kata getas yang berarti mudah patah menceritakan bahwa karang yang sangat kuat saja bisa getas di tempat itu, maka orang yang sombong meski memiliki ilmu yang tinggi bisa getas di jalan itu. Mitos ini berawal dari cerita tentang Syekh Magelung Sakti, seorang kesatria muda yang berambut panjang, konon tengah mencari seorang ulama yang bisa memangkas rambutnya. Kesatria tersebut konon berasal dari Negeri Bagdad Timur Tengah. Kedatangan Syekh Magelung Sakti ke Cirebon lantaran mendengar di daerah ini terdapat orang sakti yang bisa membantu memotong rambutnya .  Di sana ia bertemu dengan seorang ulama yang belakangan diketahui bernama Sunan Gunung Jati dan ditempat itulah ia kemudian dipangkas rambutnya oleh sang Sunan dan sang kesatria itu pun bersedia jadi muridnya. Sejak saat itu daerah tersebut dinamai Karanggetas dan kali atau sungai yang melintas di jalan karanggetas dinamai Kali Sukalila, berasal dari kata suka dan Lillahitaala karena Syekhmagelung merasa suka dan sudah ikhlas rambutnya dipotong. Perpaduan antara karakter fisik, aktifitas para pengguna dan makna sejarah yang cukup kental membentuk sense of place yang cukup kuat pada jalan karanggetas.

Jalan Siliwangi

Merupakan koridor jalan yang memiliki makna sejarah yang sangat kuat bagi kota cirebon hingga saat ini. Saat pemerintah belanda membangun jaringan jalan raya darat Groote Postweg oleh Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels tahun 1808-1810, yang menghubungkan Anjer (Banten) hingga ke Penarukan (Jawa Timur), pemerintahan kolonial juga membangun jalur kereta api dengan dua stasiun kereta api, yakni Stasiun Kejaksaan dan Stasiun Prujakan di pusat kota cirebon. Kebijakan pembangunan pelabuhan Cirebon yang dibangun tahun 1865 M, dan pada tahun 1890 M diperluas dengan pembangunan kolam pelabuhan dan pergudangan, memicu peran kota menjadi kota transit dan berpengaruh pula bagi pertumbuhan industri dan perdagangannya. Selanjutnya Belanda juga membangun beberapa bangunan yang berfungsi perkantoran di sepanjang Jalan Siliwangi, seperti Gedung Karisedanan (Gedung Negara) dan kantor Balaikota (Staadhuis). Jalan siliwangi menjadi orientasi bagi perkembangan morfologi kota cirebon. Jalan siliwangi sangat imagebility dengan banyaknya bangunan cagar budaya (heritage) yang dapat dijumpai disepanjang jalan. Bangunan peninggalan kolonial yang memiliki ciri arsitektur ‘Art Deco” yang sangat indah menjadikan jalan siliwangi sebagai jalan yang memiliki karakter arsitektur kota yang sangat kuat dibanding ruas jalan lainnya. Fungsi kawasan jalan siliwangi yang pada umumnya perkantoran, menjadikan jalan siliwangi tampil sebagai jalan protokol kota yang berkelas. Jalan siliwangi juga tempat diselenggarakannya acara – acara atau perayaan – perayaan besar yang memiliki skala kota atau nasional. Agenda-agenda wisata dan kebudayaan yang secara periodik juga diselenggarakan di ruas jalan siliwangi. Makna sejarah yang sangat kuat, aktifitas kota yang sangat dinamis dan karakter fisik yang sangat spesifik adalah perpaduan yang kuat untuk sense of place jalan siliwangi.

D.    Penutup

Koridor karangwangi memiliki imageability yang sangat kuat karena berbagai elemen – elemen yang spesifik dan unik, sehingga mudah diingat bahkan sekalipun koridor itu tidak di lalui. Adanya folklore atau mitos pada koridor karangwangi menjadikan koridor karangwangi ini selalu berada dalam benak sebagian besar warga kota Cirebon khususnya. Koridor karangwangi merupakan koridor utama yang bisa menjadi perhatian utama dan bisa memberikan kesan pertama bagi pengguna jalan atau pendatang dari luar kota saat memasuki kota cirebon. Dengan demikian koridor ini semestinya menjadi ‘landmark’ yang memberikan informasi dan kesan yang baik tentang kota cirebon. Dengan kata lain koridor ini berpeluang untuk menjadi ‘Main Street’, simbol atau identitas bagi kota Cirebon.

Dengan potensi peninggalan budaya yang dimiliki dan beberapa upaya yang dilakukan, koridor karangwangi akan dapat dikembangkan juga sebagai kawasan yang menjadi ‘image’ bagi kota cirebon. Pada era globalisasi seperti saat ini, adanya main street sebagai identitas kota atau citra kota dapat berfungsi sebagai penambah daya tarik wisata bagi kota. Main street menjadi sesuatu yang penting untuk memperkuat identitas dan wajah kota sehingga membuat kota tersebut menarik dan memiliki daya tarik bagi wisatawan.

 

Daftar Pustaka

Antariksa, Basuki.(2018) : Kebijakan Pembangunan Sadar Wisata : Menuju Daya Saing Kepariwisataa Berkelanjutan. Intrans Publishing, Anggota IKAPI, Malang, Jawa Timur.

Atja (1986) : Carita Purwaka Caruban Nagari ; Karya Sastra Sebagai Sumber Pengetahuan Sejarah. Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat, Bandung, Indonesia.

Friedmann, John (1987) : Planning in The Public Domain ; From Knowledge to Action. Princeton University Press, Princeton – New Jersey.

Goeldner, Charles,R.,dan Ritchie, J.R.Brent.(2009) : TOURISM ; Principles, Practices, Philosophies. Published by John Wiley & Sons, Inc, Hoboken, New Jersey.

ICOMOS (2009) : World Heritage Cultural Landscape : Description of World Heritage Cultural Landscape with a Bibliography Based on Document Available at the UNESCO-ICOMOS Document Center, ICOMOS 2009.

Jacobs, Jane ; The Death and Life of Great American Cities, Random House, New York, Publication date 1961, Pages 458 (1989 edition), ISBN 0-679-74195-X.

Judisseno, Rimsky K.(2017) : Aktivitas dan Kompleksitas Kepariwisataan :  Suatu Tinjauan Tentang Kebijakan Pengembangan Kepariwisataan. PT.Gramedia Pustaka Utama, Anggota IKAPI, Jakarta.

Lynch, Kevin (1960) : The Image Of The City. The MIT Press, Cambridge-Massachusetts.

Lynch, K., (1981); Theory Of Good City Form, MIT Press, Cambridge.

Mazmanian, Daniel A., Sabatier Paul A.,(1945) : Implementation And Public Policy. Scott, Foresman and Company, Dallas.

Mansouri, A. (2009) ; Comparative Study of Complexity in Streetscape Composition. World Academy of Science, Engineering and Technology,2009.

Moughtin, Cliff, (2003) ; “Urban Design : Street And Square”, Architectural Press.

Oktay, Derya, (2002) ; The Quest For Urban Identity In The Changing Context Of The City Of Northern Cyprus, Jurnal Cities, Vol 19, No.4., Elsevier Science Ltd.

Prawiraredja, sugianto, mohammed. (2005) : CIREBON ; Falsafah, Tradisi dan Adat Budaya. Perum Percetakan Negara RI.

Relph, E. (1976) ; On The Identity Of Places. In Carmona, Urban Design Reader(pp. 102-107). Oxford: Architectural Press.

Scheffler, N. (2009) ; Identity And The City: Urban Identity an Asset for sustainable Development in Times ofg Globalization. URBACT Annual Conference.

Shirvani, Hamid (1985) : The Urban Design Process : Van Nostrand Reinhold, Universitas California .

Wibisono, B.H., (2001) ; Transformation Of Jalan Malioboro, Yogyakarta:The Morphology And Dynamics Of A Javanese Street. Doctor Of Philosophy Dissertation At Faculty Of Architecture, Building And Planning, The University Of Melbourne.

Rabu, 12 Agustus 2020

Lemahwungkuk, Tempat Peletakan Batu Pertama Kota Cirebon

 

Lemahwungkuk, Tempat Peletakan Batu Pertama Kota Cirebon

Oleh: Yoyon Indrayana

 

Cirebon pada awalnya adalah sebuah daerah yang bernama Tegal Alang-alang yang kemudian disebut Lemah Wungkuk dan setelah dibangun oleh Pangeran Walangsungsang diubah namanya menjadi Caruban.

Nama Caruban sendiri terbentuk karena di wilayah Cirebon dihuni oleh beragam masyarakat. Sebutan lain Cirebon pada saat itu adalah Caruban Larang.

PADA perkembangannya Caruban berubah menjadi Cirebon karena kebiasaan masyarakatnya sebagai nelayan yang membuat terasi udang dan petis, masakan berbahan dasar air rebusan udang (cai rebon).

Menurut Kitab Purwaka Caruban Nagari, Cirebon dulunya bernama Dukuh Caruban. Dukuh Caruban adalah dukuh yang dibangun oleh putra mahkota Pajajaran, Pangeran Cakrabuwana/ Raden Walangsungsang yang dibantu oleh adiknya Nyai Lara Santang dan istrinya Nyai Indang Geulis. Pangeran Cakrabuwana membuka pedukuhan atas perintah gurunya, Syekh Nurul Jati/ Syekh Datuk Kahfi.

Pedukuhan yang dibuka oleh Pangeran Walangsungsang dikenal dengan nama Lemah Wungkuk. Pedukuhan ini sebenarnya telah dihuni oleh seorang nelayan bernama Ki Gedeng Alang-Alang/ Ki Danusela yang kemudian menjadi Kuwu Cerbon pertama.

Lama-kelamaan dukuh ini berkembang dan ramai dikunjungi para pedagang dan berubah nama menjadi Caruban. Pangeran Walangsungsang yang sepulang beribadah haji berganti nama menjadi Ki Somadullah kemudian menggantikan Kuwu Cerbon pertama Ki Gedeng Alang-Alang sebagai Kuwu Cerbon kedua dan kelak  membangun Keraton Pakungwati dengan gelar Sri Mangana atau Prabu Anom.

Cirebon yang dulunya dikenal juga dengan nama Caruban Nagari, menampakkan diri sebagai pelabuhan yang mulai dikenal orang, ketika pengaruh Islam secara perlahan memasuki daerah-daerah pantai utara Jawa. Sebuah manuskrip berbahasa Tiongkok “Shun-Feng Hsiang-Sung” yang menjelaskan adanya intruksi jalur pelayaran dari Shun-t’a (Sunda Pajajaran) ke arah timur Pantai Utara menuju Che-Li-Wen (Cirebon).

Keberadaan Cirebon sebagai pelabuhan diberitakan dalam sumber Portugis, diperkuat oleh laporan-laporan yang dibuat oleh Tome Pires dalam kunjungannya ke Cirebon pada tahun 1513 M, Tome Pires menyebut Cirebon dengan “Chorobon”. Menurut catatan, Pires menggambarkan Kota Cirebon sebagai kota yang mempunyai pelabuhan yang bagus yang pada waktu ia datang menyaksikan 3-4 jung (perahu besar buatan negeri Tiongkok) dan kurang lebih 10 lancara.

Ia menggambarkan juga bahwa kota Cirebon dapat dicapai dengan menggunakan jung dan terdapat pasar yang jauhnya 1 km dari istana. Di kota itu tinggal 7 pedagang besar di antaranya adalah Pate Qodir seorang bangsawan pedagang yang pernah menjadi kepala perkampungan Jawa di Malaka yang kemudian diusir oleh tentara Portugis karena berkomplot dengan tentara Demak yang menyerbu Malaka. Berita lainnya tentang Cirebon berasal dari Belanda yang pada awal abad 16 M disebut dengan “Charabaon”. Sedangkan dari sumber yang lebih muda menyebutnya dengan ‘Cheribon” atau “Tjerbon”.

Berbeda dengan sumber berita luar negeri tentang Cirebon. Menurut naskah Carita Purwaka Caruban Nagari yang disusun oleh Pangeran Arya Carbon pada 1720 M, istilah Cirebon senantiasa berubah-ubah. Kata ini pada awalnya berasal dari kata “Caruban”, kemudian “Carbon” dan akhirnya menjadi Cirebon. Alasan kenapa disebut dengan Cirebon atau Caruban itu karena tempat ini dijadikan sebagai tempat percampuran berbagai bangsa, agama, bahasa dan lain sebagainya. Karenanya, tempat ini disebut dengan Caruban yang berarti campuran.

Bagi kalangan para wali, Cirebon disebut juga sebagai ‘puser jagat’  karena terletak di tengah-tengah Pulau Jawa. Masyarakat Cirebon sendiri menyebutnya sebagai “Nagari Gede” yang lambat laun disebut juga dengan ‘Garage” dan berubah menjadi “Grage”.

Menurut sumber lainnya yang berasal dari observasi lapangan, beberapa orang menjelaskan bahwa kata “Grage” berasal dari kata “Glagi” atau nama udang kering untuk bahan membuat terasi. Jika dihubungkan dengan kenyataan, bahwa Cirebon dari dahulu hingga sekarang ini merupakan daerah penghasil udang dan terasi.

 

KI GEDENG ALANG-ALANG/KI DANUSELA

Ki Gede Alang-Alang adalah julukan bagi tokoh pendiri Cirebon yang bernama Bramacari Siramarna.  Dijuluki Ki Gede Alang-Alang karena yang bersangkutan sukses membuat daerah yang sebelumnya berupa alang-alang atau rerumputan tak terurus menjadi desa/ pedukuhan yang ramai. Menurut Naskah Carita Pustaka Caruban Nagari, Ki Gede Alang-Alang adalah nama lain dari Ki Danusela adik dari Ki Danuarsih, penguasa Cirebon Girang.

Diceritakan perihal Ki Danusela yang bergelar Ki Gedeng Alang-alang, Ia telah lama tinggal di Tegal Alang-Alang atau Kebon Pesisir yang kemudian disebut Lemahwungkuk bersama istrinya Nyai Arumsari. Setiap hari, kerjanya mencari rebon (udang kecil) untuk membuat terasi, petis, dan garam. Dari perkawinannya dengan Nyai Arumsari, Ki Danusela mempunyai seorang anak bernama Nyai Retna Riris, kelak bernama Nyai Kencana Larang. Selanjutnya, Ki Somadullah memperistri Nyai Kencana Larang.

Pada mulanya Ki Gede Alang-Alang penyembah berhala, tapi selepas berkenalan dengan Walangsungsang ia menjadi tertarik pada agama Islam. Kala itu Pangerang Walangsungsang menggunakan nama Abdullah Iman, ia menyembunyikan jati dirinya sebagai anak Raja Pajajaran, pendek kata Abdullah Iman lebih memilih menjadi manusia biasa, ia berprofesi sebagai nelayan pencari rebon dan pembuat trasi.

Setelah beberapa lama berkenalan dengan Abdullah Iman, serta mengetahui ketinggian ahlak dan budi pekertinya, Ki Gede Alang-Alang makin mantap dengan pemuda itu, sehingga Ki Gedeng Alang-Alang mengawinkannya dengan anaknya.

Pada tahap selanjutnya, ketika Ki Gede Alang-Alang sudah tidak sanggup lagi menjabat Kuwu Cirebon, ia mengangkat Walangsungsang sebagai Kuwu Cirebon pengganti dirinya. Tapi sebelum itu Walangsungsang mula-mula diberi jabatan Pangraksabumi/ Raksabumi, sebab itulah nama lain dari Pangeran Walangsungsang adalah Cakrabuwana. Maksudnya orang yang mengemban jabatan Raksabumi/ Pangraksabumi.

Dari anak perempuannya, Ki Gede Alang-Alang kelak memiliki tiga orang cucu, yaitu Nyi Dalem Pakungwati, Pangeran Kejaksan dan Pangeran Pajarakan. Tidak ada kejelasan mengenai kapan tokoh Ki Gede Alang-Alang dilahirkan dan meninggal, akan tetapi dalam kepercayaan masyarakat Cirebon, Ki Gede Alang-Alang menghabiskan masa tuanya di wilayah selatan Cirebon yang sejuk.

Masyarakat juga percaya bawa Ki Gede Alang-Alang wafat dan dikuburkan di Desa Tukmudal, Sumber Cirebon. Situs dan makam dari Ki Gede Alang-Alang hingga kini dapat dijumpai di Desa Tukmudal dan kadang ada beberapa orang yang mengunjunginya untuk berziarah.

 

PANGERAN WALANGSUNGSANG (1428 M)

Setelah mendapatkan pengajaran agama yang cukup dari gurunya Syekh Nurjati, pangeran Walangsungsang dan nyimas Lara Santang kemudian diperintahkan menunaikan ibadah haji ke Mekah, disana nyimas Lara Santang menemukan jodohnya yaitu seorang pembesar Arab dan menikah sehingga nyimas tidak ikut kembali ke Cirebon.

Di Mekah, Nyai Lara Santang diperistri oleh Maolana Sultan Mahmud yang juga disebut Syarif Abdullah, putra Ali Nurul Alim dari bangsa Hasyim yang berasal dari Bani Ismail yang dulu berkuasa di kota Ismailiyah. Juga, membawahi Bani israil (Bani Israil) di wilayah Pilistin (Palestina). Setelah menjadi istri Maolana Sultan Mahmud, ia diberi nama Saripah Mudaim, dan kakaknya bergelar Haji Abdullah Iman.

Sepulangnya dari melaksanakan haji, pangeran Walangsungsang diminta oleh gurunya untuk membuka lahan guna membuat perkampungan baru sebagai cikal-bakal negeri yang ia cita-citakan, setelah memilih dari beberapa tempat akhirnya diputuskan perkampungan baru tersebut akan dibangun di wilayah Kebon Pesisir atau Lemahwungkuk atau Tegal Alang-Alang.

Dukuh Tegal Alang-Alang bertambah ramai, dan banyak warga masyarakat Dukuh Pesambangan yang berpindah ke daerah itu untuk berdagang dan menangkap ikan, tidak ada yang bertani. Setelah tiga tahun Ki Cakrabumi tinggal di daerah itu, nama pedukuhan berubah menjadi Desa Caruban Larang, karena desa tersebut tinggal berbagai bangsa dengan agama, bahasa, tabiat, dan juga pekerjaan yang berbeda.

Menurut sejarah lisan dan sebagian babad mengenai masalah ini, dikatakan bahwa Pengeran Walangsungsang diperintahkan oleh gurunya Syekh Datuk Kahfi (Nur Jati) untuk membuka lahan di wilayah Kebon Pesisir, namun dikatakan bahwa di Kebon Pesisir tidak sepenuhnya kosong karena sudah ada sepasang suami istri yaitu Ki Danusela dan istrinya yang tinggal di sana.

Akhirnya sebagai bentuk penghormatan maka Kuwu (Kepala Desa) Caruban yang pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Danusela dengan gelar Ki Gedeng Alang-alang, dan sebagai Pangraksa bumi atau wakilnya, diangkatlah Raden Walangsungsang, yaitu putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subang larang atau Subang kranjang, yang tak lain adalah puteri dari Ki Gedeng Tapa.

Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Walangsungsang yang juga bergelar Ki Cakrabumi diangkat menjadi penggantinya sebagai kuwu yang kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuwana.

Pada masa pemerintahan Ki Danusela sebagai kuwu Kebon Pesisir, dibangun juga tajug (bahasa Indonesia: Mushola) pertama di wilayah tersebut atas prakarsa dari menantunya yaitu pangeran Walangsungsang, tajug tersebut bernama tajug Jalagrahan, yang berfungsi sebagai tempat penyebaran agama Islam, dari sinilah awal mula Islam menyebar ke wilayah Cirebon dan sekitarnya, Pangeran Walangsungsang kemudian juga membangun sebuah tempat tinggal yang disebut Gedong Witana pada tahun 1428 Masehi yang sekarang menjadi bagian dari kompleks keraton kanoman, kesultanan kanoman.

Pangeran Cakrabuwana adalah keturunan Pajajaran. Putera pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang pertamanya bernama Subang larang (puteri Ki Gedeng Tapa). Raden Walangsungsang, ia mempunyai dua orang saudara seibu, yaitu Nyai Lara Santang dan Raden Kian Santang.

Sebagai anak sulung dan laki-laki ia tidak mendapatkan haknya sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran. Hal ini disebabkan oleh karena ia memeluk agama Islam (diturunkan oleh Subang larang – ibunya), sementara saat itu (abad 15) ajaran agama mayoritas di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha.

Pangeran Walangsungsang pada usia remaja keluar dari istana karena mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad dan diperintahkan untuk mencari atau mempelajari agama Islam yang bisa menyelamatkan kehidupan manusia di dunia dan akhirat, Posisinya digantikan oleh adiknya, Prabu Surawisesa, anak laki-laki Prabu Siliwangi dari istrinya yang kedua Nyai Cantring Manikmayang.

Pangeran Walangsungsang setelah membuat sebuah pedukuhan di Kebon Pesisir, kemudian juga membangun Kuta Kosod (susunan tembok bata merah tanpa spasi), mendirikan Dalem Agung Pakungwati serta membentuk pemerintahan di Cirebon pada tahun 1430 M.

Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman, tampil sebagai “Raja” Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.

Dari beberapa uraian di atas maka bisa ditarik kesimpulan bahwa pembukaan dukuh Lemahwungkuk oleh Pangeran Walangsungsang pada saat itu bisa dianggap sebagai tempat peletakan batu pertama pembangunan kota cirebon, karena dari dukuh lemahwungkuk lah kemudian pembangunan kota cirebon berkembang dan berlanjut hingga saat ini.